Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa mempercayai peramal, maka dia terlepas dari apa yang diturunkan kepada Muhammad saw” (HR. Bukhari)

Yang demikian itu karena peramal mengetahui sesuatu hal yang gaib itu dengan perkiraan. Peramal dan dukun memperoleh berita tentang sesuatu itu dari setan. Hal itu sebagaimana diterangkan Rasulullah saw bahwa para dukun dan ahli nujum tersebut sama sekali tidak mengetahui hal-hal yang gaib, tetapi mereka menjadi budak setan yang menguping pembicaraan dari langit (Allah SWT), lalu setan itu memberitahukan kepada para dukun dan ahli nujum yang menjadi tuan mereka dan menambah berita itu dengan kebohongan, sehingga kenyataan yang terjadi adalah apa yang didengar oleh setan, dan orang-orang yang mendatangi dukun itu mengira bahwa dia mengetahui hal-hal yang gaib atau sebagai orang shaleh yang diberi wahyu.

Antara peramal dan dukun mempunya hubungan yang sangat erat. Yang ada, Allah Azza wa Jalla hanya memberikan pengetahuan mengenai bahasa hewan kepada Sulaiman saja, sebagaimana yang diucapkan melalui firman-Nya “Wahai sekalian manusia, kamu telah diberi pengertian dengan suara burung” (QS. An-Naml : 16)

Sedangkan apa yang diakui oleh para peramal dan dukun itu merupakan pengakuan yang tidak perlu dipercayai.

About these ads