You are currently browsing the tag archive for the ‘rahasia doa mustajab’ tag.

Ada beberapa faktor suatu doa tak dikabulkan, antara lain :

  • Perkara ini sejak awal hingga akhir, kembali pada kehendak Allah Swt. Karena itu makna firman Allah “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku Baca entri selengkapnya »

Apakah ada tanda untuk mengetahui terkabulnya doa ? Tanda-tanda tersebut tidak ada. Karena tidak ada dalil baik dari Al-Qur’an maupun as-Sunnah yang menjelaskan hal tersebut. Namun sebagian ulama mengatakan, tanda-tanda dikabulkannya doa itu adalah rasa takut, menangis, gemetar dan terkadang pula akan mendatangkan rasa gentar.

Bisa juga setelah berdoa kemudian merasa tenangnya hati dan kesunyian, timbulnya semangat secara batin dan rasa menyembunyikan amal secara zhahir, seakan di atas pundaknya ada beban berat, kemudian ia meletakkannya. Saat itu ia tak lupa untuk senantiasa menyerahkan diri kepada Allah, tulus, memuji dan beribadah kepada Allah Swt

  • Tidak meminta sesuatu yang tak mungkin terjadi baik secara logika maupun kebiasaan
  • Tidak boleh meminta sesuatu untuk membolehkan yang haram atau menghalalkan yang haram
  • Tidak mendoakan keburukan pada orang yang tidak berhak atau untuk hewan
  • Tidak boleh berdoa semisal untuk panjang umur atau harta banyak, bila dengan tujuan menyombongkan diri atau sebagai fasilitas untuk memenuhi syahwat.
  • Tidak berdoa untuk tujuan menguji kemampuan. Namun doa harus tulus dan murni. Karena tidak ada hamba yang bisa menguji-Nya
  • Tidak menyibukkan diri dengan doa hingga lupa menunaikan yang wajib
  • Tidak menganggap besar suatu kebutuhan hingga ia berdoa dengan semua apa yang ia inginkan. Allah Swt lebih agung dari hal itu, dan Allah tidak butuh dimuliakan oleh siapapun
  • Tidak menyesal atau putus asa karena tidak lekas dikabulkan. Sebab sebenarnya kebaikannya terletak pada penundaan pengabulan doa. Doa merupakan ibadah, sehingga keputus asaan itu bisa menafikkan esensi ibadah itu sendiri
  • Tidak membatasi diri untuk berdoa dengan lafazh yang dirangkai orang lain, tanpa mengetahui maknanya. Juga tidak selalu berupaya meniru lafazh doa tersebut.
  • Memperbagus ucapan ketika berdoa dan menghindari kata-kata buruk.
  • Berdoa dengan Asmaul Husna
  • Hendaknya seseorang meyakini, tidak ada yang mampu memenuhi kebutuhan kecuali Allah

Sebagian ulama shalaf ada yang mengatakan bahwa mengangkat tangan dalam berdoa sesudah shalat itu bid’ah ada yang mengatakan tidak. Sebaiknya ambillah pertengahannya saja, yaitu saat berdoa untuk kepentingan diri kita sendiri sebaiknya doa itu diucapkan pada saat-saat sujud (saat terdekat dengan Allah) atau berdoalah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an, karena doa yang ada didalam Al-Qur’an itu sudah terjamin akan dikabulkan. Carilah yang sesuai dengan kondisi anda saat ini. Hal berikut dibawah ini merupakan situasi khusus dimana anda bisa mengangkat tangan.

  • Saat Istisqa (meminta hujan)
  • Saat meminta pertolongan untuk mengalahkan musuh, sebagaimana Rasulullah saw berdoa dalam perang badar, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Umar
  • Ketika berdoa keburukan untuk orang-orang yang membunuh kaum mukminin, sebagaimana Rasulullah saw berdoa atas orang-orang yang membunuh para qari Al-Qur’an. (HR. Al-Baihaqi dengan sanad shahih, al-Majmu’ (III/487)
  • Saat mendoakan orang-orang yang sudah meninggal di pekuburan, sebagaimana Nabi saw mendoakan Ahlul Baqi’. (HR. Muslim dari Aisyah, al-Majmu’ (III/488)
  • Setelah melempar jumrah aqabah yang pertama dan wustha (HR. Bukhari dari Ibnu Umar)
  • Saat melihat orang-orang zhalim, sebagaimana dalam Shahih Bukhari dari Anas, Rasulullah saw sampai di Khaibar di pagi hari dan penduduk daerah itu sudah keluar ke pelataran. Nabi lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa “Allah Mahabesar. Semoga rusak Khaibar”
  • Saat berdoa untuk kaum mukminin, sebagaimana dilakukan Nabi saw saat beliau mendoakan Abu Amir dan Abu Musa. Kedua hadist tersebut disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
  • Saat berdoa dalam perjalanan, sebagaimana disebutkan dalam hadist Abu Hurairah ra tentang orang yang berada dalam perjalanan jauh (Shahih Muslim).
  • Saat bersyukur kepada Allah Swt, sebagaimana dilakukan oleh Abu Bakar ra saat Nabi saw shalat di belakangnya dan memberi isyarat agar ia tetap di depan memimpin shalat (Shahih Bukhari Muslim)
  • Saat berdoa untuk tidak disiksa. Aisyah r.a berkata, “Aku melihat Nabi saw berdoa sambil mengangkat kedua tangannya :

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia, maka jangan Kau siksa aku. Siapa saja orang dari kaum Mukminin yang aku ganggu atau aku ejek, jangan Kau siksa aku karena.”

  • Ketika berdoa untuk orang sesat agar mendapatkan hidayah. Nabi saw berdoa untuk Kabilah Daus agar ia mendapatkan hidayah. Ini diriwayatkan dari Abu Hurairah ra
  • Ketika berdoa untuk orang-orang yang sudah mati agar ia mendapatkan ampunan, sebagaimana dilakukan Nabi saw pada orang yang terluka kedua tangannya “Ya Allah, dan untuk kedua tangannya, maka ampunilah” (al-Majmu’ <III/489>)
  • Saat mendoakan keburukan untuk orang yang memukul istrinya. Rasulullah saw dalam persoalan istri Walid, beliau berdoa “Ya Allah hukumlah Walid”
  • Saat berdoa untuk para peziarah orang shalih, sebagaimana dilakukan Nabi saw saat berdoa untuk orang yang menjenguk Utsman ra
  • Saat berdoa qunut, seperti yang pernah dilakukan Ibnu Mas’ud (al-Majmu’ III/490)
  • Saat berdoa untuk umat, sebagaimana disebutkan dalah Shahih Muslim, Nabi saw mengangkat kedua tangannya dan berdoa “Ya Allah, (tolonglah) umatku, (tolonglah) umatku”
  • Saat meninggalkan Arafah. Nabi mengangkat kedua tangannya namun tidak melampaui kepala beliau. (HR. Imam Muslim, Ahmad dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas ra)
  • Saat mendoakan orang-orang shalih, sebagaimana Nabi saw mendoakan Thalhah (HR. Tabrani dengan sanad shahih). Beliau juga mendoakan Saad bin Ubadah.
  • Saat mendoakan kuda dan pasukan dengan keberkahan. Disebutkan dalam hadist Tabrani dari Khalid bin Urthufah saat Nabi saw mendoakan kuda Ahmas dan pasukannya dengan keberkahan.
  • Saat berlepas diri dari perbuatan buruk. Rasulullah saw berdoa “Ya Allah, sesungguhnya aku lepas diri dari apa yang dilakukan Khalid”

Saran saya ikutilah orang itu karena dia benar jangan ikuti kebenaran karena seseorang tetaplah mencari kebenaran melalui Al-Qur’an dan Hadist yang Shahih

  • Penolakan istri untuk berhubungan dengan suaminya

“Jika seorang suami mengajak istrix ke tempat tidur, namun sang istri enggan hingga suaminya tidur dalam keadaan marah padanya, malaikat akan melaknatnya sampai pagi” (HR. Bukhari Muslim)

  • Seorang istri menyakiti suami

“Seorang perempuan tidak menyakiti suaminya yang shaleh di dunia, kecuali istrinya dari kalangan bidadari mengatakan, ‘jangan kau sakiti dia. Allah akan memerangimu. Suamimu itu, disisimu tak lebih seperti orang yang masuk mampir dan hampir meninggalkanmu dan menemui kami’.” (HR. Ahmad)

Hadist di atas bukan berarti suami boleh menyakiti istrinya dari segi apapun.

Amalan-amalan tersebut mesti diperhatikan, diantaranya :

  • Menjenguk orang yang sakit

“Tidaklah seorang muslim yang menjenguk orang muslim lain (yang sedang sakit) melainkan Allah akan mengutus 70.000 malaikat yang bershalawat kepadanya dalam setiap waktu siang sampai datang waktu sore dan semua waktu malam sampai pagi”. (HR. Ibnu Hibban) Dalam riwayat Abu Dawud dan Al-Hakim, disebutkan (para malaikat akan memohonkan ampun bagi penjenguk itu)

  • Bershalawat kepada Nabi

“Tidaklah seorang hamba yang bershalawat kepadaku, kecuali malaikat akan bershalawat kepadanya, selama dia bershalawat kepadaku. Maka hendaklah seorang hamba mengucapkan atau memperbanyak shalawat” (Hadist Hasan Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban)

  • Duduk di tempat shalat

“Malaikat akan memohonkan ampun bagi salah seorang di antara kalian selagi dia berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats atau berdiri (dari tempat itu). Malaikat akan mengatakan ‘Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah kasihanilah dia” (HR. Ahmad)

Sebagian orang tidak berdoa dan selalu beralasan dengan ucapan yang selalu mereka ulang “Allah mengetahui keadaanku, karena itulah aku tidak butuh berdoa”. Orang yang berpendapat demikian, bertentangan dengan firman Allah

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al-Mu’min/Ghafir : 60)

Tak mau berdoa, menyebabkan kemurkaan Allah Swt. Rasulullah besabda “Orang yang tidak meminta kepada-Nya, akan mendapatkan murka dari-Nya” (HR. Tirmidzi <shahih>)

Meninggalkan doa membuktikan bahwa seseorang lemah. Hal itu dilarang, Rasulullah saw bersabda :

“Manusia yang paling lemah adalah yang enggan berdoa Baca entri selengkapnya »

Doa adalah obat paling manjur dan musuh bagi musibah, karena doa dapat melawan dan menyembuhkan musibah. Doa juga dapat menghalanginya turunnya musibah atau bila musibah itu telah turun, doa bisa menghilangkan atau meringankannya. Doa adalah senjata bagi orang beriman.

Doa, diukur dari kadar musibah, mempunyai 3 tingkatan, yaitu

  1. Doa lebih kuat dari musibah, hingga doa mampu menghilangkan musibah itu.
  2. Doa lebih lemah dari musibah, hingga musibah itu mandominasi dan menimpa seorang hamba. Namun dalam tingkatan ini, terkadang doa dapat meringankan suatu musibah.
  3. Keduanya sejajar atau seimbang. Maka doa terkadang mencegah datangnya musibah dan terkadang musibah dan terkadang musibah mampu melawan kekuatan doa
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.