Sebenarnya tata cara istikharah menurut sunnah Rasulullah amatlah ringan dan mudah. Hanya saja, ternyata masih banyak orang yang mencari jalan lain, yang biasanya malah lebih berat dan lebih sulit. Padahal, cara lain terebut sama sekali tidak efektif. Peluang keberhasilannya kecil, tidak seperti istikharah ala Rasulullah yang peluangnya besar, bahkan pasti berhasil.

Lafal doa menurut tuntunan beliau itu pun ringkas dan padat. “meskipun demikian, ternyata masih ada sebagian orang yang memilih untuk dirinya perkara bid’ah yang diada-adakan, yang sangat jauh dari kebenaran dan keabsahan. Akhirnya, mereka menghalangi kebaikan bagi diri mereka sendiri. Bahkan tidak jarang menjatuhkan mereka ke dalam kesyirikan dan khurafat.

Istikharah-istikharah yang tergolong bid’ah, yang jauh dari kebenaran dan keabsahan, sebetulnya ada banyak. Beberapa contoh di antaranya adalah sebagai berikut :

• Mengharuskan adanya kemantapan hati
Banyak pelaku tahajud beranggapan, kemantapan hal itu pasti merupakan jawaban dari Allah. Padahal, tidak ada petunjuk dari Rasulullah yang menyatakan begitu.
Yang jelas, kelapangan dada, kelegaan perasaan, atau kemantapan hati itu patokannya tidak pasti. Mungkin saja kelapangan dada itu terjadi lantaran dorongan hawa nafsu ataupun bisikan setan. Bagaimanapun, hati yang belum mantap, seusai menerima petunjuk Allah, bisa dimantapkan.

• Mengharuskan terjadinya mimpi
Banyak pelaku tahajud menyangka, terjadinya mimpi itu pasti merupakan jawaban dari Allah. Padahal, tidak ada petunjuk dari Rasulullah yang menyatakan begitu. Mungkin saja, mimpi itu berasal dari Allah, tetapi boleh jadi dari setan ataupun sekedar bunga tidur. Siapa tahu?

• Mempercayai ramalan paranormal
Ramalan paranormal berasal dari jin yang mencuri sebagian berita dari langit. Karena, berita tersebut sepotong-sepotong, bahkan kemudian mencampur adukkan dengan berita bohong, ramalan paranormal tidak bisa dipercaya.

• Mempercayai ramalan bintang
Cara ini banyak dijumpai di zaman ini. Rubrik ramalan bintang memenuhi lembaran berbagai surat kabar, majalah, tabloid, buku, dan media cetak lainnya. Ramalan bintang pun disiarkan pula melalui televisi, radio, internet, sms, dan media elektronik lainnya. Begitu populernya ramalan bintang, sampai-sampai hampir semua orang mengetahui rasi bintang kelahirannya.

Umpamanya, seseorang yang berbintang capricorn sedang bingung, apakah kedekatan hubugannya dengan si dia perlu ditingkatkan ke jenjang pernikahan ataukah direnggangkan. Lalu, dibacanya ramalan bintang untuk capricorn pada pekan tersebut. “… asmara seperti kata orang, cinta tak harus memiliki. Hari baik minggu. Angka bahagia 7-3.

Kemudian berdasarkan ramalan tersebut, ia putuskan untuk menulis “surat perpisahan” sepanjang 7 paragraf, masing-masing sebanyak 3 kalimat. Ia menyampaikan kepada si dia pada hari itu juga, Minggu (Na’uudzu billah min dzalik).

Sebagian orang setengah-percaya setengah-ragu terhadap ramalan bintang yang mereka simak. Lantas, sewaktu kepergok membaca rubrik ramalan bintang, terkadang mereka berkelit, “Ah, ini cuma main-main. Kalo ramalannya benar, ya syukur. Kalo enggak bener ya nggak apa-apa. (Masya’Allah! Mengapa perkara akidah dijadikan main-main?)

• Mengharuskan pembacaan dengan jumlah tertentu
Doa istikharah dapat diucapkan sekali ataupun berulang-ulang. Namun, perihal jumlahnya harus berapa, tiada ketentuan dari Rasulullah. Penentuannya justru merupakan bid’ah.

Contoh bid’ah ini diantaranya: “seandainya urusan yang di istikharahkan merupakan urusan yang penting (sulit), yang engkau takutkan dan cemaskan, maka doa tadi harus dibaca sebanyak 100 kali. Namun, jika sebaliknya, yaitu tidak terlalu penting, maka bacalah sebanyak 3 kali”

• Menggunakan mushaf Al-Qur’an
Menurut tuntunan Rasulullah saw, kita perlu membaca Al-Fatihah dan ayat Al-Qur’an lainnya sewaktu bershalat istikharah. Membaca ayat-ayat Al-Qur’an sewaktu bershalat istikharah pun memudahkan kita mendapat petunjuk dari Allah swt.

Akan tetapi, Nabi saw tidak mengajarkan penggunaan mushaf Al-Qur’an untuk memeriksa hasil istikharah kita. Penggunaannya, terutama dengan cara-cara spekulatif yang tidak masuk akal, justru merupakan bid’ah.

Untuk menentukan apakah hasil istikharah itu baik atau buruk, kita harus melihat kandungan ayat Al-Qur’an yang muncul (ayat Al-Qur’an pada baris pertama pada lembaran sebelah kanan yang kita buka secara acak setelah membaca doa).

Jika ayat Al-Qur’an yang muncul mengandung petunjuk tentang sesuatu yang baik, atau ayat itu mengandung uraian tentang orang-orang beriman, atau ayat itu berkisah tentang ganjaran yang di dapat penghuni surga, atau ayat itu mengandung berita-berita tentang surga, maka hal itu mengindikasikan bahwa hasil istikharah itu baik. Dalam hal ini, kita harus melakukan urusan yang telah kita istikharahkan dengan kedamaian hati.

Sebaliknya, jika ayat yang muncul berisi kemurkaan atau hukuman Allah swt, larangan berbuat jahat, uraian tentang orang-orang kafir dan munafik, penjelasan atau uraian tentang neraka, maka kita harus memohon perlindungan dari Allah swt dan tidak boleh melakukan urusan yang kita istikharahkan.

• Menggunakan biji tasbih
Ini merupakan bid’ah yang sangat gamblang.
Contohnya : ambillah tasbih dan bersalawat atas Rasulullah saw dan keluarganya sebanyak tiga kali. Setelah (kamu sebarkan biji-biji tasbih) itu (di depanmu), raihlah (biji-biji) tasbih (secara acak dengan satu genggaman tangan kanan) dan hitunglah dua-dua. Apabila hitungan terakhir tersisa satu (yang berarti jumlahnya ganjil), lakukanlah urusan yang di istikharahkan; namun apabila sisanya dua (yang berarti jumlahnya genap), janganlah melakukannya.

• Menggunakan tulisan
Ini juga merupakan bid’ah yang sangat gamblang. Seseorang harus menulis sebanyak 6 lembar dimana 3 lembar bertuliskan jangan lakukan dan 3 lebar yang lainnya lakukanlah. Setelah itu goncanglah, lalu lihatlah lembaran apa yang terbanyak (apakah lakukanlah ataukah jangan lakukan). Dan ambillah tindakan sesuai dengan lembaran yang terbanyak.

Seluruh tulisan ini saya kutip dari M. Shodiqa dkk