“Wahai Tuhan kami, jadikanlah cintaku kepada-Mu sebagai sesuatu yang paling aku suka. Dan, takutku kepada-Mu sebagai rasa yang paling dalam. Putuskanlah segala ketergantungan dunia dariku. Lalu, menggantinya dengan perasaan rindu berjumpa dengan-Mu. Jika Engkau memberikan kepada ahli dunia kesejukan harta mereka, maka jadikanlah kesejukan bagiku di dalam ibadahku”

Demikianlah satu pustaka kesalehan kaum salafus shalih. Doa yang terus menerus dirafal manusia pilihan Allah ini, Muhammad saw, mengantarkan tulisan ini pada pembahasan shalat awwabin. Satu ibadah dalam ritus islam yang dapat mencirikan kecintaan seorang ‘abid kepada ma’bud, Allah SWT.

Seperti ghalib kita ketahui, ada sebuah shalat yang kerap dilakukan Rasulullah saw, antara salat maghrib dan shalat isya. Sayangnya, saat ini sudah mulai redup gaungnya. Bahkan ada banyak saudara kita yang seiman sama sekali tidak mengenalinya. Padahal, Ibnu Mubarak menuturkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “Barangsiapa shalat antara maghrib dan isya, maka ia telah mengerjakan shalat kaum awwabin, yaitu orang-orang yang tulus dalam tobatnya”

Oleh karena itulah, para ulama menamakan shalat ini sebagai shalat awwabin. Para peretas jalan ruhani hampir dipastikan tidak pernah melewatkan waktu antara maghrib dan isya, kecuali mengumpulkan bijian pahala dengan memperbanyak ibadah kepada Allah. Kening-kening mereka terus merekat dengan alas sejadah. Begitu juga dengan lisan mereka, selalu basah dengan ayat-ayat Allah.

Dalam kaca mata kaum spiritualis, shalat yang dilakukan minimal dua rakaat dan maksimal dua puluh rakaat ini akan menebar berkah bagi pelakunya. Tidak hanya di dunia, bahkan tergenapkan hingga di akhirat nanti. Seperti pinutur kenabian berikut, “Barang siapa antara maghrib dan isya mengurung diri di suatu masjid, tanpa mengucapkan sesuatu, kecuali bacaan shalatnya atau membaca ayat-ayat Al-Qur’an, maka pastilah Allah SWT (dengan kasih sayang dan kedermawanan-Nya) akan mendirikan baginya dua istana di surga. Jarak antara keduanya seperti perjalanan seratus tahun. Dan akan ditanamkan baginya pepohonan pada jarak sejauh itu. Sehingga seandainya dimasuki oleh segenap penghuni bumi, niscaya akan cukup luas bagi mereka”

Subhanallah. Ternyata tidak ada kata rugi ataupun kamus sulit jika kita sungguh-sungguh menjalankannya. Berat memang, apalagi melihat waktu pelaksanaannya. Maghrib hingga isya adalah satu waktu yang serba tanggung bagi para profesional. Dan, waktu sayang bagi ibu-ibu yang berkawan dengan dunia sinetron. Oleh karena di waktu itulah, primetime acara di tv-tv kita. Namun, jika yang mendasari adalah cinta karena-Nya, maka seorang ‘abid yang merindukan ma’bud-nya tidak akan pernah menjadi masalah. Ia akan mengutamakan kekasihnya selalu.

Simak jawaban Junaid Al-Baghdadi ketika serombongan jamaah haji menanyakan tentang hakikat cinta. Orang yang jatuh cinta adalah hamba yang mengabaikan dirinya, selalu menyebut Rabb-nya, melaksanakan hak-hak-Nya, memandang-Nya dengan hati dan membakar hati dengan cahaya kehendak-Nya, jika bicara dengan menyertakan Allah, jika berucap dari Allah, jika bergerak menurut perintah Allah, jika diam bersama Allah. Dia dengan Allah, milik Allah, dan bersama Allah.

Kini, apalagi yang kita tunggu. Seperti juga jawaban balik jamaah haji itu. Kita pun bisa dengan bangga mengatakan, ini keterangan yang tidak membutuhkan tambahan lagi. Semoga Allah menganugerahi keperkasaan kepadamu, wahai pemimpin orang-orang berilmu. Dan, itu artinya kita nyatakan bismillah, siap mengerjakan amalan pusaka bernama salat awwabin ini. Insya Allah.