Jika anda sedang pergi sendirian, kemudian di hadapan anda terbentang dua jalan, jalan yang susah dilalui karena naik ke atas bukit dan jalan yang mudah dilalui karena turun ke bawah.

Pada jalan pertama, kondisinya terjal, banyak duri dan lobang, sehingga susah di daki dan dilalui. Namun, di depan jalan itu terdapat sebuah petunjuk yang digambarkan oleh pemerintah. Petunjuk itu menyatakan bahwa jalan yang ditempuh pada mulanya susah dilalui, tapi inilah jalan yang benar. Jalan yang bisa mengantarkan para pejalan sampai di kota besar yang menjadi tempat tujuan mereka.

Pada jalan kedua, kondisinya begitu indah karena dikelilingi berbagai pepohonan. Di samping jalan itu terdapat pula warung dan tempat hiburan. Dengan begitu, mata bisa melihat pemandangan yang indah, dan telinga bisa mendengarkan kemerduan suara. Namun disana terdapat gambaran bahwa jalan itu berbahaya dan menjerumuskan. Sebab di ujung jalan itu terhampar jurang maut yang sungguh-sungguh bisa merenggut nyawa.

Maka terhadap dua jalan ini, jalan mana yang anda tempuh?

Tidak diragukan lagi bahwa jiwa manusia cenderung pada perkara yang enak-enak tanpa mengharapkan adanya kesulitanm juga cenderung pada segala kenikmatan tanpa mengharapkan adanya penderitaan. Jiwa manusia lebih senang pada kebebasan daripada segala macam keterikatan. Ini adalah fitrah yang disematkan oleh Allah kepada jiwa manusia. Seandainya manusia tidak sanggup mengendalikan nafsunya, dan terbujul oleh kemauan nafsu, maka manusia akan memilih jalan yang kedua diatas. Namun manusia dikaruniai akal, yang berfungsi mempertimbangkan antara memilih kenikmatan sesaat tapi berujung penderitaan kekal atau penderitaan sesaat tapi berujung kenikmatan kekal. Disini pilihan akal sangat menentukan.

Inilah perumpamaan jalan menuju surga dan jalan menuju neraka.

Jalan menuju neraka senantiasa terhampar peristiwa yang menyenangkan, serta terdapat berbagai hiburan yang menuruti kemauan nafsu, sehingga akan terasa sangat senang saat melihat segala sesuatu yang tampak indah-indah. Di jalan itu segala keinginan nafsu dapat dihempaskan, dapat mengambil semua harta sesuai dengan kemauannya, sebab di jalan itu bebas melakukan apapun.

Jalan menuju surga senantiasa sulit dan penuh rintagan. Di sana terdapat batasan dan segala macam aturan. Bertolak belakang dengan kehendak nafsu, dan mesti sanggup mengendalikan nafsu. Namun dibalik kesulitan yang temporer ini terdapat kenikmatan yang abadi ketika di akhirat nanti.

Seorang teman yang jahat berkata kepada anda, “Di tempat ini ada seorang wanita cantik yang menari sambil telanjang”. Seketika itu anda berhasrat ingin melihat wanita itu, karena nafsu yang mendorong anda untuk melakukannya. Saat itu, beribu-ribu setan turut juga mendukung perbuatan anda. Maka anda tidak ingat apapun kecuali ingin melihat wanita telanjang tersebut. Seandainya datang sebuah nasehat agar anda menjauhi wanita telanjang tersebut, nasehat itu akan sulit mengubah pendirian anda, sulit menentang keinginan dan tekad hati anda.

Mengajak berbuat dosa tidak ada kesulitan dan kepayahan yang merintanginya. Namun kesulitan dan kepayahan hanya datang bila kita menganjurkan kebaikan. Mengajak berbuat dosa sama halnya menuruti setiap keinginan nafsu, seperti melihat aurat yang terbuka, dan mengerjakan perkara haram. Adapun mengajak berbuat kebajikan berarti kesanggupan mengendalikan nafsu agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan haram.

Apabila anda melihat aurat seorang wanita, kemudian anda kagum atas keindahan tubuhnya, maka seseorang perlu menasehatinya, “Tundukkan pandanganmu atas wanita itu, kamu jangan melihatnya”

Seorang pedagang meraup keuntungan secara mudah dengan melakukan praktek riba. Keuntungan itu diperoleh tanpa usaha keras. Maka seseorang perlu menegurnya, “Tinggalkan praktek riba, kamu jangan mencari keuntungan dengan cara seperti itu”

Seorang pegawai melihat temannya menerima uang suap cuma dalam waktu satu detik yang nilainya sama dengan jumlah gajinya selama satu bulan. Maka pegawai itu harus menegur temannya, “Sedikitpun jangan kamu ambil uang suap itu, kamu jangan mempergunakan suap itu untuk kemewahan hidupmu”

Siapapun yang bertekad mengajak amal kebajikan perlu mengatakan “Hendaknya kalian meninggalkan segala kenikmatan temporer yang tampak, demi menggapai segala kenikmatan yang abadi di akhirat nanti”

Tentu saja semua itu merupakan beban berta bagi siapapun. Sebab segala amal kebajikan biasanya memberatkan siapapun untuk mengamalkannya.

Bagi seorang murid, meninggalkan kebiasaan nonton televisi kemudian beralih belajar yang giat, merupakan pekerjaan yang berat.

Orang yang sedang tidur kemudian mesti bangun meninggalkan tempat tidurnya untuk mengerjakan shalat subuh, merupakan pekerjaan yang berat.

Seseorang yang terpaksa meninggalkan istri dan anaknya karena memenuhi panggilan jihad, merupakan pekerjaan yang berat.

Oleh karena itu, anda akan banyak menjumpai orang jahat daripada orang shaleh, orang lalai yang bingung karena terjatuh dalam kesesatan daripada orang yang senantiasa mengingat jalan hidayah. Seandainya sifat mulia dan terpuji terhitung jarang, maka jarang pula intan yang muncul ke permukaan sebab yang banyak bermunculan hanya arang. Juga sedikit sekali orang pandai yang brilian dan orang shaleh yang berkualitas di tengah-tengah masyarakat.