Ketahuilah bahwa kunjungan malaikat maut merupakan suatu kepastian dan takdir yang telah ditentukan secara pasti, apakah umurmu panjang ataukah pendek.

Ketahuilah bahwa kita semua adalah para musafir di negeri ini, dan musafir itu sudah hampir tiba di tempat tujuannya dan menyudahi perjalanannya.

Perjalanan hidup sudah hampir berhenti, dan kereta umur telah mendekati perjalanan akhir. Sebagian orang shaleh ada yang mendengar tangisan atas orang yang meninggal, lalu ia pun berkata, “sungguh mengherankan suatu kaum yang juga sebagai musafir menangisi musafir lain yang telah sampai pada tempat yang dituju.

Saudaraku, sejak engkau ditakdirkan sebagai seorang musafir, maka ketahuilah bahwa perjalananmu itu akan segera berakhir. Apa yang hendak engkau katakan manakala engkau berada dalam kesusahan? Apa yang engkau katakan ketika sedang menunggu detik-detik kematian? Apa yang akan engkau katakan ketika engkau telah terbaring di tempat tidur menunggu ajal? Apa yang engkau katakan ketika engkau sudah menjadi mayat? Apa yang engkau katakan ketika engkau telah ditimbun dengan tanah? Apa yang engkau katakan ketika engkau telah bertemu dengan Dzat yang menjalankan angin dan hujan?

Kita berlindung kepada Allah agar tidak termasuk golongan :

“Orang-orang yang apabila malaikat maut mencabut nyawa mereka seraya memukul muka dan punggung mereka” (QS. Muhammad : 27)

Atau termasuk :

“Orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim terhadap diri mereka sendiri, lalu mereka menyerahkan diri (sambil berkata), ‘kami sekali-kali tidak mengerjakan kejahatan’. Malaikat mengatakan, ‘kamu melakukannya, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan’. Maka masukilah pintu-pintu neraka jahannam, dimana kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat kembali orang-orang yang menyombongkan diri” (QS. An-Nahl : 28-29)

Ketahuilah, bahwa dengan datangnya malaikat maut kepadamu, maka berakhirlah usiamu, terputuslah amalanmu dan diipatlah lembar catatan amalanmu.

Ketahuilah pula bahwa setelah malaikat maut ini datang kepadamu, maka engkau sudah tidak bisa lagi menambah amal kebajikan sedikitpun. Engkau sudah tidak bisa lagi mengerjakan shalat dua rakaat, tidak bisa lagi membaca satu ayat pun dari kitab Allah, dan tidak bisa lagi bertasbih, tahmid, tahlil, bertakbir, dan beristighfar walau hanya sekali. Engkau tidak lagi bisa berpuasa sehari pun, atau bersedekah dengan barang sesederhana apapun, tidak bisa berbuat baik seremeh apapun kepada kerabat atau tetangga. Masa beramal sudah berlalu, dan yang tersisa hanya hisab dan pemberian balasan atas perbuatan baik atau kealpaan dan dosa.

“Sehingga apabila telah datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia pun berkata ‘ya Rabbi, kembalikanlah aku, agar aku bisa berbuat amal shaleh sebagai ganti dari apa yang aku tinggalkan’. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Sedangkan di hadapan mereka ada dinding sampai hari ketika mereka dibangkitkan” (QS. Al-Mukminun : 99-100)

Saudaraku, lalu manakah persiapanmu untuk menyambut kedatangan malaikat maut? Mana pula persiapanmu untuk menghadapi berbagai peristiwa mengerikan sesudah mati di alam kubur nanti, dan juga ketika dimintai pertanggung jawaban, ketika dihimpun di padang mahsyar, ketika dibangkitkan, ketika dihisab, ketika ditimbang, ketika diberi kitab, dan ketika dihadapkan ke hadapan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi?

Diriwayatkan dari ‘Adi bin Hatim ra bahwa ia berkata : Rasulullah saw bersabda :

“Tiada seorang pun diantara kalian kecuali akan diajak bicara secara langsung oleh Allah pada hari kiamat tanpa ada penerjemah antara dirinya dengan-Nya. Ia kemudian memandang sebelah kanan dan ia tidak melihat sesuatu kecuali perbuatan yang dahuku dikerjakannya. Ia memandang sebelah kiri dan ia tidak melihat kecuali perbuatannyanya yang telah ia lakukan. Ia kemudian memandang kedepan, dan ia tidak meihat kecuali neraka yang ada di hadapannya. Maka dari itu, takutlah kepada neraka walau hanya dengan (bersedekah) separoh biji kurma, dan walau hanya dengan kalimat thoyyibah (perkataan yang baik). ” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku, hingga kapan engkau akan bersantai-santai, sementara malaikat maut segera menjemput? Kalau saja kita ini adalah benda mati, boleh jadi tidak menjadi soal. Namun, kita ini jauh nilainya di atas benda mati. Kematian selalu memanggil kita setiap waktu, namun kita tidak juga mau mendengarkannya. Nafas jiwa terus berkurang, sedangkang dosa-dosa selalu bertambah. Jika tanaman sudah mulai menguning, maka obatnya tidak lain adalah dipanen.