• Jika kamu dihadapkan pada dua pekerjaan, sementara kamu tidak mengetahui pekerjaan yang mana yang lebih benar, maka kerjakanlah pekerjaan yang tidak engkau sukai karena sesuatu yang engkau senangi itu merupakan pekerjaan yang diinginkan oleh nafsumu. Allah SWT berfirman “… tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 216)
  • Setiap ada indikasi untuk santai (menganggur), bermegah-megah, ingin tampil beda hingga orang lain mengakui bahwa engkau memiliki penampilan yang lebih, dan ada dorongan untuk berusaha keras serta mengutamakan kesenangan duniawi sesaat yang kadangkala engkau tidak memedulikan kepentingan orang lain. Maka, hal itu merupakan bisikan setan melalui nafsumu.
  • Ketika engkau menyenangi kesibukan duniawi sesaat, menyenangi ibadah karena imbalan pahala semata, ketika engkau cenderung menuruti kemanjaan jasadmu, enggan untuk melakukan rangkaian kewajiban mengabdi kepada Tuhan, lebih senang tidur daripada berwudhu dan shalat pada waktu malam dan subuh, maka hal itu menunjukkan bahwa engkau sedang dibantai oleh setan melalui nafsumu.
  • Ketika fitrah akal engkau menerima bisikan malaikat, dan engkau tersadar untuk beribadah di tengah kesibukan, kegembiraan, kesenangan, kesedihanmu atau terjaga di tengah nyenyak dan lelapnya tidur, maka setan dan nafsumu akan menyerangmu dengan dalih untung dan rugi, senang dan susah, enak dan tidak enak bagi jasad kita, mengajak untuk bermalas-malasan dan yang sejenisnya. Karena itu berlindunglah kepada Allah dari tipu daya iblis dan setan dengan membaca :

“Rabbi a’uzu bika min hamazatisy-syayatin, wa a’uzu bika rabbi ay yahdurun”

Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku”

  • Secara umum, penyamaran iblis dan setan itu berupa seribu dalih dan argumentasi yang beraneka ragam untuk menggagalkan hal-hal yang direspon positif oleh akal. Sementara akal memunculkan argumentasi-argumentasi yang hakiki dan logis dengan pertimbangan kebaikan pada masa mendatang, sedangkan hakikat kebenaran tidak akan dapat diraih kecuali dengan cahaya kebenaran Tuhan dan pertolongan-Nya. Ketika akal condong kepada hal-hal yang kurang nyaman bagi badan pada saat ini, dan menjadikan kebahagiaan pada masa yang akan datang, maka nafsu akan condong kepada hal-hal yang sebaliknya, yaitu kenikmatan sesaat dan kebinasaan pada kesudahannya. Ketika terjadi perselisihan seperti itu, setan dan iblis akan memperkuat keinginan nafsu, sedangkan malaikat akan memperkuat akal dengan cahaya Allah.