Kadang-kadang ada yang lalai mengerjakan shalat. Kadang-kadang ada yang benar-benar menikmati klip lagu yang mempetontonkan aurat atau membaca berbagai majalah murahan, atau mengerjakan ini dan itu yang kesemuanya diharamkan oleh Allah. Akan tetapi, selama dalam hatinya terdapat cahaya iman, atau kilauan fitrah yang suci, maka dia akan merenungkan bisikan yang sedang menyeru dirinya “Hendaklah kamu kembali kepada Allah. Tidakkah sekarang kamu mesti bertaubat”

Coba anda perhatikan pola seseorang yang tenggelam dalam dosa yang seolah-olah dosa tersebut halal baginya. Kemudian perbuatan maksiat dan kejahatan yang melekat dalam dirinya bahkan sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-harinya.

Tentu dia akan mengajak dirinya memburu para gadis, menari-nari, menyanyi, atau melakukan perbuatan dosa.

Namun, setelah melakukan perbuatan seperti itu, tentu saja dia enggan mengajak dirinya mencicipi manisnya iman!!!

Dia lebih condong mencari lorong-lorong kegelapan, dan menyalakan cahaya ketika sudah berada di ujung lorong kegelapan tersebut. Akan tetapi, masihkah ada orang yang mau menempuh jalan hiadayah dan iman? masihkah ada orang yang ingin keluar dari kegelapan menuju jalan cahaya?

Ada sebagian pemuda yang kehidupannya dirusak oleh video-video klip yang mempertontonkan aurat, tarian serta joged yang membuat mereka histeris. Kemudian mereka mencari tambahan perbuatan yang mengumbar kehormatan diri baik di rumah maupun di jalan. Dan, merekapun melakukan perbuatan yang menjerumuskan diri mereka pada perbuatan dosa dan maksiat.

Banyak para pemuda yang dalam hatinya tertanam cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka pun memiliki semangat yang menyala-nyala terhadap islam dan kaum muslimin. Sikap ini tampak saat ada bencana dahsyat yang melanda banyak orang. Terhadap semua itu mereka pun menunjukkan semangat mereka yang menyala-nyala dan mencerminkan sikap sebagai seorang muslim!! Toh demikian, yang patut disesalkan ialah ternyata mereka masih tenggelam dalam perbuatan maksiat dan perbuatan yang hanya menuruti kemauan nafsu.

Para pemuda itu tahu bahwa mereka tidak bahagia saat mengerjakan maksiat san dosa. Hidup mereka terasa sengsara saat berada di bawah bayang-bayang perbuatan mungkar dan haram.

Mereka dirundung gelisah siang dan malam. Merek seolah-olah dipanggang di atas bara api sehingga susah memejamkan mata. Terdengar pula teriakan ketakutan mereka sehingga mereka tidak bisa tidur malam meskipun satu jam.

Pandangan mereka menampakkan kesedihan karena siksa yang membuat mereka tidak bisa memejamkan mata. Hidup mereka mempertontonkan perasaan sedih dan tertekan.