Jika ada yang bertanya, bagaimanakah cara membebaskan diri dari nafsu, padahal nafsu itu harus terjadi pada dirinya? Jawabannya dengan pertolongan dan taufik Allah, inilah cara untuk membebaskannya :

  • Harus ada hasrat, sehingga dia merasa cemburu terhadap diri sendiri dan nafsunya
  • Harus memiliki seteguk kesabaran dalam menghadapi kepahitan yang dirasakan saat itu
  • Kekuatan jiwa yang bisa mendorongnya untuk meminum seteguk kesabaran itu, sebab semua bentuk keberanian merupakan kesabaran sekalipun hanya sesaat, dan sebaik-baik hidup ialah jika seseorang mengetahui hidup itu dengan kesabarannya
  • Mempertimbangkan kelanjutan yang baik dan kesembuhan yang terjadi di kemudian hari
  • Mempertimbangkan penderitaan yang semakin menjadi-jadi, sebagai akibat dari menuruti kenikmatan hawa nafsu
  • Mementingkan kedudukannya di sisi Allah dan di hati hamba-hamba-Nya. Ini jauh lebih baik dan lebih bermanfaat daripada mendapatkan kenikmatan karena menuruti hawa nafsu
  • Lebih mementingkan kehormatan diri dan kelezatannya daripada kenikmatan kedurhakaan
  • Harus berfikir bahwa dia diciptakan bukan untuk kepentingan nafsu, tetapi untuk suatu urusan yang besar, yang tidak bisa dicapai kecuali dengan menentang nafsunya
  • Tidak boleh memilih bagi dirinya bahwa hewan lebih baik keadaannya daripada dirinya. Dengan tabiatnya hewan saja bisa membedakan mana yang membahayakan dan mana yang bermanfaat bagi dirinya, lalu dia mementingkan mana yang bermanfaat dan meninggalkan mana yang membahayakannya. Manusia diberi akal untuk masalah ini. Jika dia tidak bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya bagi dirinya, atau dia mengetahui tapi justri dia memilih yang berbahaya bagi dirinya, berarti keadaan hewan lebih baik keadaanya daripada keadaannya.
  • Melibatkan hati dalam mempertimbangkan hawa nafsu, sehingga dia bisa mengetahui seberapa banyak nafsu itu meloloskan ketaatan dan berapa banyak nafsu itu mendatangkan kehinaan.
  • Orang yang berakal harus menggambarkan tujuan yang terealisir seperti yang diinginkan nafsunya, kemudian dia harus menggambarkan keadaannya setelah memenuhi kebutuhannya dan apa yang lepas darinya
  • Dia harus mempertimbangkan hak orang lain dengan sebenar-benarnya
  • Harus memikirkan apa yang dituntut jiwanya, lalu bertanya kepada akal dan agamanya yang nantinya akan mengabarkan bahwa apa yang dituntut itu tiada artinya apa-apa
  • Menghinakan diri sendiri karena dia tunduk kepada nafsu
  • Mempertimbangkan keselamatan agama, kehormatan, harta dan kedudukan, dengan kenikmatan yang didapatkan
  • Harus mengetahui bahwa nafsu tidak mencampuri sesuatu melainkan ia merusaknya
  • Memerangi nafsu lebih hebat dan lebih besar daripada memerangi orang-orang kafir
  • Barangsiapa melapangkan dirinya untuk mengikuti hawa nafsu, maka dia akan disempitkan di dalam kuburnya dan saat kembalinya