Alhamdulillah, Ramadhan pun kembali menyapa kita. Satu kesan tentang kedatangan bulan rahmat ini, bait spiritual yang sering diratapi para penikmat sujud, ahlus sajjad

Duhai Tuhanku, gemilang di langit-Mu sudah tenggelam/mata-mata makhluk-Mu sudah terlelap/suara-suara hamba-Mu sudah sunyi/pintu-pintu raja sudah tertutup rapat/dan para penjaga berkeliling di sekitarnya/mereka menutup diri dari orang-orang yang memerlukannya.

Tapi Engkau tidak pernah mengantuk dan tidak tertidur/pintu langit-Mu tetap terbuka bagi mereka yang berdoa kepada-Mu/perbendaharaan-Mu tidak pernah terkunci/pintu-pintu rahmat-Mu tak pernah terhalangi/dan anugerah-Mu bagi orang yang mencarinya tidak tertahan/bahkan diberinya berlimpah …

Inilah bulan yang segera kita sambut dengan aneka amal saleh dan kebajikan. Sekaligus yang mengistirahatkan segala keburukan amal dan kezaliman. Sebuah hadist menyebutkan bahwa ramadhan adalah bulan yang malam dan siangnya paling utama. Jam dan detiknya paling berharga. Bulan yang kita diundang oleh Allah menjadi tamu dan dimuliakan-Nya. Denyut napas dihitung tasbih, tidurnya dianggap ibadah. Kesalehannya tidak ada penghalang, akan diterima. Dan, permohonannya di kabulkan.

Hanya di bulan ini seseorang akan betul-betul menemukan kenikmatan ibadah. Saking nikmatnya amalan sunnah pun dipandang wajib. Tidak aneh jika umat beriman di pojok bumi manapun tidak memiliki keluh kesah dengan sikus ini. Amalan khas ramadhan, yaitu tarawih misalnya, sama sekali tidak ada yang merasa berat dengannya. Betapa tidak, tambahan pahala semakin mengalir kepada kita. Yang paling utama adalah termapuninya dosa-dosa. “Barangsiapa yang melaksanakan qiyamu ramadhan karena iman dan ingin mendapatkan pahala niscaya akan diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu”, demikian hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Salat ini boleh dilaksanakan secara munfarid (sendirian) atau dengan berjamaah. Namun, pada umumnya kita melaksanakannya dengan berjamaah. Rasulullah saw sendiri hanya melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah dengan para sahabat pada malam kedua atau malam ketiga bulan ramadhan. Kemudian, pada malam-malam selanjutnya beliau melaksanakannya secara munfarid (sendirian). Alasannya, Rasulullah saw sangat mengkhawatirkan shalat ini diwajibkan atas umatnya.

“Rasulullah saw pergi ke masjid pada tengah malam di bulan ramadhan, kemudian beliau shalat disana. Maka, orang-orang ramai turut shalat bersamanya. Pada pagi harinya orang-orang membicarakan shalat Rasulullah saw tersebut. Akibatnya, jamaah-jamaahnya bertambah banyak. Pada keesokan harinya, orang-orang menceritakan itu kembali kejadian itu, sehingga jamaah masjid pada malam ketiga bertambah banyak”

Pada malam tersebut, beliau keluar dan orang-orang shalat mengikuti shalat beliau. Akhirnya pada malam keempat masjid tidak mampu lagi menampung jamaah hingga Rasulullah saw keluar mengerjakan shalat subuh. Setelah selesai shalat subuh beliau menghadap kepada jamaah dan bersabda, “Amma ba’du! Sesungguhnya saya tahu tempat duduk kalian. Tapi saya khawatir shalat tarawih itu diwajibkan atas kalian, lalu kalian tidak sanggup mengerjakannya (HR. Bukhari – Muslim)