Ma’rifatun Nabi adalah satu diantara tiga cabang kema’rifatan, selain ma’rifatullah dan ma’rifatud din. Dalam kitab Syarah Tsalatsatul Ushul karya Syaikh Muhammad Shalih bin ‘Utsaimin, ma’rifatun nabi meliputi lima hal. Salah satu diantara kelima hal tersebut adalah mengenali sunnah-sunnahnya.

Terangkum dalam As-Sunnah tersebut, hadits-hadits yang pada intinya mengandung pelajaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh seorang hamba untuk dicintai dan mencintai Alloh Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya. Jalan terbaik untuk menggapai perasaan cinta tersebut adalah melalui ibadah. Ada ibadah yang bersifat mahdhah seperti shalat, zakat, puasa atau haji.

Adapula ibadah yang bersifat ghair mahdhah seperti belajar, bekerja, dan juga melaksanakan pernikahan. Berkenaan dengan pernikahan, pada sebuah haditsnya Rasulullah SAW bersabda, “Nikah itu adalah sunnahku. Barangsiapa yang mencintai agamaku, maka hendaklah mengikuti sunnahku.” Dari sabda Rasulullah SAW itu, dapat disimpulkan bahwasanya pernikahan didasari oleh cinta, khususnya kecintaan pada agama jika mengacu pada kalimat di dalam hadits tersebut. Seseorang yang mencintai agamanya dituntut untuk konsekuen terhadap niat. Dalam Islam, seorang muslim wajib menyerahkan diri kepada Alloh SWT dengan semurni-murninya tauhid. Selain itu, Ia dituntut pula untuk patuh dan mentaati semua perintah-Nya, jika mengaku cinta kepada Islam.

Pernikahan adalah sebuah episode yang akan menguji tingkat kecintaan seseorang terhadap agama, yang berarti mencintai Alloh SWT beserta syari’at-syari’atnya. Untuk itulah setiap pasangan yang akan menikah, hendaknya mengetahui keutamaan-keutamaan syari’at sebelum dan sesudah mereka melaksanakan walimatul ‘ursy. Setelah mereka faham akan faedah-faedah di balik suatu pernikahan, maka hendaknya mereka melaksanakan ketentuan-ketentuan syari’at tersebut dalam mengarungi bahtera rumahtangga. Faedah serta hikmah akan terlihat kemudian, hingga akhirnya mereka dapat mengecap apa yang dinamakan cinta yang hakiki.

Sebab, benih cinta dalam rumahtangga yang dibentuk melalui pernikahan tumbuh dan berkembang dalam ridha Alloh SWT. Semakin keras upaya pasangan yang mengarungi bahtera rumahtangga dalam menjalankan segala ketentuan Alloh Azza Wa Jalla, maka semakin besar pula hikmah cinta yang diberikan-Nya. Tak ada jalan lain untuk kesempurnaan cinta dalam rumahtangga selain menjalankan syari’at-Nya secara sempurna seperti yang sudah disinggung sebelumnya.

Mengenai faedah pernikahan, Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin telah mengemukakan bahwasanya diantara faedah pernikahan adalah berpeluang mendapatkan anak yang saleh, menjaga syahwat, keteraturan hidup berumahtangga, memperbanyak keluarga, dan pahala yang diraih sebab kesungguhan menafkahi keluarga. Pada Ensiklopedi Islam Untuk Pelajar diterangkan pula hikmah dari suatu pernikahan, yaitu:

1. Menyalurkan naluri seksual secara sah dan benar. Islam menunjukkan bahwa inilah yang membedakan manusia dengan binatang.

2. Membina keluarga atau rumahtangga yang penuh kasih sayang dan ketentraman.

3. Memperoleh anak dan keturunan secara sah serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam memelihara dan mendidik anak.

4. Menyatukan keluarga kedua belah pihak, sehingga hubungan silaturrahmi semakin kuat dan terbentuk lebih banyak keluarga baru.

Al-Qur’an Nur Karim sendiri telah menjelaskannya pada surah 30 ayat 21, bahwa pernikahan diperintahkan Alloh SWT, agar manusia senantiasa merasa tentram, dan dapat memenuhi kebutuhan fitrah akan kasih sayang.

Pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana cara sebuah pasangan untuk mencapai faedah dan manfaat pernikahan tersebut dalam mahligai rumah tangga?

Syarat utama untuk menggapai kemaslahatan sebuah rumah tangga tak lain adalah ilmu. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwasanya tidak ada bekal hidup yang lebih baik selain ilmu. Dengan ilmu, manusia mendapatkan petunjuk untuk berbuat dan mencapai apa yang dicita-citakan. Dengan ilmu pula, manusia dapat membedakan hal yang baik dengan hal yang buruk, sehingga akhirnya ia dapat menentukan pilihan bagi diri maupun orang lain.

Berkenaan dengan ilmu sebagai bekal dalam pernikahan, K.H. Miftah Faridl dalam bukunya 150 Masalah Nikah Dan Keluarga telah mengutip beberapa ayat Al-Qur’an maupun Hadits yang wajib untuk diamalkan. Menurut risalah itu, suami atau istri memiliki kewajiban masing-masing.

Kewajiban Suami:
1. Bergaul dengan istrinya secara ma’ruf, serta bersabar atas kekurangannya (Q.S. An-Nisa’: 19).
2. Menggauli istri dengan niat untuk melakukan amal saleh serta mendapatkan keturunan yang saleh (Q.S. Al-Baqarah: 223).
3. Berbuat adil terhadap istri (Q.S. Ath-Thalaaq: 6).
4. Menafkahi istri dan keluarga sekuat kemampuannya (Q.S. Ath-Thalaaq: 7).
5. Memperlakukan istri dengan lemah lembut serta dengan akhlak yang baik (H.R. Bukhari-Muslim).

Kewajiban Istri:
1. Taat dan patuh kepada suami (H.R. Tirmidzi).
2. Melayani suami dengan sebaik-baiknya (H.R. Muttafaq ‘Alaih).
3. Menjaga rahasia suami (Q.S. An-Nisa’:34).
4. Tidak bepergian dan berpuasa tanpa izin suami (H.R. Bukhari Muslim).
5. Menjaga harta suami (H.R. Nasa’i).

Andai seorang suami maupun istri mampu memenuhi atau setidaknya berusaha sekuat tenaga menjalankan kewajiban-kewajibannya itu, Insya Alloh, akan didapati rahmah (cinta kasih) maupun mawaddah (menyayangi) didalam rumah tangga. Rahmah dan mawaddah tersebut, pada hakikatnya adalah berkah yang tiada terhingga dari Alloh Azza wa Jalla. Suatu perwujudan cinta yang dikaruniakannya kepada dua insan yang mengarungi kehidupan berkeluarga sesuai tuntunan-Nya dan sunnah Rasul-Nya.