Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi Rasulullah bersabda “Barangsiapa tidur dengan tenang di tempat tidurnya, sehat badannya, memiliki jatah makanan untuk hari ini, maka seakan-akan dia telah mendapatkan dunia dan semua kenikmatannya”

Maksud hadist di atas adalah bahwa jika seseorang telah mendapatkan makanan yang cukup dan tempat berlindung yang aman, maka dia telah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dan kebaikan yang terindah. Ini terjadi pada kebanyakan orang. Namun mereka tidak pernah menyebutkannya, melihatnya dan merasakannya sebagai kebahagiaan dan kebaikan.

Allah berfirman kepada rasul-Nya,

“Dan, telah aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu” (QS. Al-Maidah : 3)

Nikmat apa yang diberikan kepada Rasulullah saw secara sempurna ? Apakah nikmat itu berupa materi ? Apakah itu makanan yang melimpah ? Apakah istana-istana, emas dan perak ? Tentu tidak. Rasulullah saw tidak memiliki semua itu.

Kenyataannya Rasulullah saw yang agung ini masih tidur di sebuah kamar yang beralaskan tanah dan beratapkan pelepah kurma. Dia mengikat perutnya dengan dua buah batu untuk menahan rasa laparnya, dan hanya beralaskan tikar yang terbuat dari pelepah kurma yang membekas di belikatnya. Dia menggadaikan pakaian perangnya kepada seorang yahudi dengan harga 30 sha’ gandum. Dia berkeliling selama 3 hari untuk mendapatkan kurma yang paling jelek untuk dimakan dan untuk sekedar menutup rasa lapar, namun tidak mendapatkannya.

Kau meninggal, dan baju perangmu digadaikan dengan gandum

dan barang (gadaian)mu tetap tak tertebus hingga ajal menjelang

Dalam dirimu ada makna keyatiman yang menghiasi,

dan engkau pun bergelar bapak orang-orang yatim

“dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas” (QS. Ad-Duha : 4-5)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak” (QS. Al-Kautsar : 1)