Dalam berbakti dan beribadah kepada Allah Swt, kita harus senantiasa mengoreksi diri kita sendiri, karena orang yang tidak mau melakukan introspeksi diri, hidupnya akan selalu mengikuti keinginan nafsunya, merasa dirinya paling benar dan tidak pernah bersalah sehingga mudah menyalahkan orang lain.

Introspeksi diri adalah mengoreksi atau mengevaluasi kesalahan yang telah diperbuat karena manusia itu tidak terlepas dari kesalahan. Di samping itu, tidak ada seorang pun yang selamanya benar dan terus salah, tetapi dia akan senantiasa berada diantara keduanya. Artinya, pada suatu waktu, manusia itu bisa benar, dan pada waktu yang lain bisa salah. Rasulullah saw bersabda “Manusia itu adalah tempat kesalahan dan lupa”

Adapun ilmu yang dapat digunakan untuk sara introspeksi diri ada dua macam, yaitu ilmu tauhid dan fiqih.

  • Introspeksi dengan tauhid digunakan sebagai cara untuk mengingat bahwa kejadian atau diadakan dan ditiadakannya diri kita tiada lain sebagai bukti kekuasaan Allah Swt, serta memberikan kesadaran bahwa kita ini dihidupkan, dimatikan, dan diberi keterampilan oleh Allah Swt. Kita diciptakan dengan sifat Al-Khaliq Allah sehingga meyakini bahwa setiap kejadian dan waktu ada dalam kekuasaan-Nya

Apabila kita memiliki perasaan sebagai penentu hidup kita sendiri dan menghilangkan qudrah Allah, misalnya dengan menganggap segala sesuatu adalah hasil usaha dan keterampilan sendiri, berarti kita telah membuat kesalahan karena perasaan semacam itu termasuk ujub (sombong dan berbangga dengan diri sendiri).

  • Introspeksi dengan fiqih artinya tindakan dan perilaku kita harus dibimbing oleh hukum-hukum fiqih. Apakah tindakan ini hukumnya wajib, sunnah, makruh, atau haram ? Jika perbuatan itu haram (melanggar larangan Allah) kita telah berbuat kesalahan.

Selain kedua ilmu diatas, kita pun harus memiliki modal untuk mengevaluasi diri, yaitu :

  1. Membaca kalimat “La haula wa la quwwata illa billah”
  2. Membaca “Subhanallah”, Mahasuci Allah yang telah menciptakan dan mengawasi kami, serta menyembuhkan kami dari segala penyakit. Hanya Engkaulah yang menghilangkan segala masalah yang kami hadapi. Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa yang membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar (sebanyak) 33 kali setiap selesai shalat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya”

Membaca Subhanallah tidak boleh sebatas diucapkan, tetapi harus diresapi dalam hati, karena dia akan menjadi benih amal yang akan dituai kelak di akhirat.

Kalimat Subhanallah mengandung pengakuan bahwa hanya Allah yang memiliki kehendak terhadap semua makhluk. Kalimat Alhamdulillah merupakan bentuk syukur kita kepada Allah atas segala anugerah-Nya yaitu berupa keimanan, keislaman, dan dijaga dari perbuatan maksiat. Sedangkan kalimat Allahu Akbar mengakui bahwa Allah Maha Perkasa dan Mahakuasa. Tidak ada satupun dari makhluk yang besar mampu menandingi kebesaran Allah. Apalagi kita sebagai makhluk-Nya yang kecil, ibarat air yang sedikit di lautan, tidak berdaya untuk menunjukkan diri di hadapan kebesaran-Nya.