Menurut saya, setiap orang, siapapun dia, akan mencari kebahagiaan dan ketenangan. Namun, hanya sedikit yang sampai ke sana dengan tetap berada di bawah sinar petunjuk dan mendapatkan keberuntungan.

Siapapun yang tidak menjadikan Allah selalu berada di depan matanya, maka faedah-faedah yang dia dapatkan akan berubah menjadi kerugian. Kegembiraan yang dia peroleh akan menjelma menjadi kesedihan. Dan, kebaikannya akan berubah menjadi bencana.

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-A’raf : 182)

Jalan berliku dan sulit yang ditempuh oleh banyak orang dengan mengabaikan ketentuan-ketentuan syariat untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebenarnya, akan terasa lebih mudah dan singkat bila mereka mau menempuh jalan syar’i yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). (QS. An-Nisa : 66)

Dengan menempuh jalan yang lurus yang diajarkan oleh Muhammad saw, maka mereka mendapatkan dua kebaikan sekaligus : dunia dan akhirat.

Banyak orang yang kehilangan makna kehidupan di dunia dan di akhirat. Mereka menyangka bahwa dirinya telah melakukan yang terbaik dan telah mendapatkan kebahagiaan. Padahal, mereka gagal mendapatkan yang di sini maupun yang di sana kelak. Mengapa ? Karena mereka berpaling dari jalan yang telah Allah tunjukkan melalui rasul-rasul-Nya, dan diterangkan lewat kitab-kitab-Nya. yang diminta dan dikatakan oleh para rasul dan kitab-kitab Allah itu benar adanya.

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’am : 115)