“Wahai manusia !

Sesungguhnya dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban dosa, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu”

Di zaman yang telah hipercompetitie ini, yang tampaknya segala hal terasa sangat tergesa, dan waktu sudah tak cukup lagi dideskripsikan menjadi hanya 24 jam, siapakah yang berani mencoba menambah beban dengan menjalankan anjuran untuk melaksanakan salat sunnah ? Bukankah segala yang wajib saja sekarang sudah mulai memanfaatkan waktunya di akhir, dan bukannya tepat saat waktu yang utama langsung bergegas mengambil air wudhu saat mendengar adzan berkumandang ?

Bersikap positiflah dengan Allah. Dan, tak usah meragukan lagi lelaki agung, Nabi Muhammad saw dimana ratusan tahun yang silam sabdanya terus saja menggoda kesadaran sebagian umat islam yang selalu hanya mampu mencoba tertib menjalankan ibadah wajibnya. Salat wajib, tidak kebaikan, penyemaian amal, dan kesalehan sosial, serta berbagai kegiatan ruhani yang telah dilakukan di berbagai kehidupan memang bukanlah sesuatu yang sia-sia. Namun, seperti kutipan di atas, disiratkan kita tak akan cukup kuat menanggung pikulan dosa yang terus menumpuk. Semua tindakan itu, menurut beberapa hadist ternyata hanya sebatas untuk meringankan. Tak sampai pada titik dimana kita akan dicintai-Nya. Di mana kaki kita dikuatkan-Nya, pendengaran kita dibantu-Nya, serta apa yang kita mau dan kehendaki akan dikabulkan-Nya.

Sebenarnya, makna apakah yang tersembunyi di balik pemahaman punggung yang berat serta cara meringankannya dengan memperpanjang sujud ? Tidak lain melaksanakan salat sunnah. Sebuah kegiatan esktra, yang tentu saja memerlukan waktu ekstra, tetapi sejatinya kita juga akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa, yaitu dicintai-Nya.

Ikhwah, teruskanlah membacanya. Kini, silahkan tadabburi firman Allah dalam hadist qudsi berikut ini :

“Dan, tiada bertaqarrub (mendekat) kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Kusukai daripada menjalankan kewajibannya. Dan, tiada henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Kalau Aku mencintainya, maka Aku bersama dengannya untuk apa yang akan didengarkannya. Dari tangannya yang ia pergunakan untuk memukul atau bekerja, maka Aku akan senantiasa menjadi kakinya dan selalu berjalan mengiringinya. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya ia akan Kuberi. Dan jika ia meminta perlindungan-Ku, niscaya pula Aku akan selalu melindunginya” (HR. Bukhari)

InsyaAllah, hadist ini yang memiliki redaksi langsung dari Allah ini mampu mengantarkan kita untuk membenamkan diri dalam samudra kenikmatan bermunajat kepada Allah melalui salat sunnah.

Allahu Akbar !!! Inilah sedikit manfaat salat sunnah. Menurut hadist shahih lainnya, diantara salat-salat yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah, adalah salat dua rakaat ketika fajar menyingsing atau sebelum mengerjakan shalat subuh. Atau, lebih dikenal juga dengan sebutan Qobliyah subuh.

“Tidak ada nafilah, salat sunnah yang sangat dijaga pelaksanaannya oleh Nabi saw melebihi dua rakaat fajar” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dua rakaat itu disebut salat fajar karena dikerjakan di waktu fajar dan disebut Qobliyah Subuh karena dikerjakan sebelum salat subuh. Kalau sebelum datangnya fajar, tentu tidak bisa disebut salat fajar. Salat ini pun disebut juga dengan rawatib karena pelaksanaannya selalu mengikuti salat fardhu, yaitu salat subuh.

Sebuah riwayat dari hadist Muslim dan Akhmad juga menyebutkan, bahwa Rasulullah bersabda, “Kedua rakaat itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya”. Hal ini karena begitu besarnya fadhilah salat fajar ini. Bahkan, Nabi pernah memerintahkan salah seorang sahabatnya yang tidak sempat salat fajar untuk mengqadha setelah usai melaksanakan salat subuh.

Sebagaimana Rasul membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, maka dalam salat fajar yang kita lakukan selayaknya mengikuti bacaan tersebut. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh para ulama besar, bahwa dengan membaca surat Al-Kafirun kita sekaligus menegaskan diri bahwa di hari yang akan kita lalui eksistensi ulukhiyah kita haruslah lebih kuat lagi dari hari-hari sebelumnya. Tidak tercemar oleh polusi syirik dan nifak. Begitu juga dengan surat Al-Ikhlas. Totalitas dalam mengejar keridhaan-Nya haruslah menjadi urat baru dalam meretas hari berikutnya. Salat fajar bisa dilakukan di rumah seperti juga Rasul lakukan. Namun setelah sampai di masjid, beliau kemudian melaksanakan salat lagi dengan niat tahiyyatul masjid.

Selamat menikmati keindahan pagi dengan melaksakan salat fajar.