Sebagian ulama shalaf ada yang mengatakan bahwa mengangkat tangan dalam berdoa sesudah shalat itu bid’ah ada yang mengatakan tidak. Sebaiknya ambillah pertengahannya saja, yaitu saat berdoa untuk kepentingan diri kita sendiri sebaiknya doa itu diucapkan pada saat-saat sujud (saat terdekat dengan Allah) atau berdoalah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an, karena doa yang ada didalam Al-Qur’an itu sudah terjamin akan dikabulkan. Carilah yang sesuai dengan kondisi anda saat ini. Hal berikut dibawah ini merupakan situasi khusus dimana anda bisa mengangkat tangan.

  • Saat Istisqa (meminta hujan)
  • Saat meminta pertolongan untuk mengalahkan musuh, sebagaimana Rasulullah saw berdoa dalam perang badar, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Umar
  • Ketika berdoa keburukan untuk orang-orang yang membunuh kaum mukminin, sebagaimana Rasulullah saw berdoa atas orang-orang yang membunuh para qari Al-Qur’an. (HR. Al-Baihaqi dengan sanad shahih, al-Majmu’ (III/487)
  • Saat mendoakan orang-orang yang sudah meninggal di pekuburan, sebagaimana Nabi saw mendoakan Ahlul Baqi’. (HR. Muslim dari Aisyah, al-Majmu’ (III/488)
  • Setelah melempar jumrah aqabah yang pertama dan wustha (HR. Bukhari dari Ibnu Umar)
  • Saat melihat orang-orang zhalim, sebagaimana dalam Shahih Bukhari dari Anas, Rasulullah saw sampai di Khaibar di pagi hari dan penduduk daerah itu sudah keluar ke pelataran. Nabi lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa “Allah Mahabesar. Semoga rusak Khaibar”
  • Saat berdoa untuk kaum mukminin, sebagaimana dilakukan Nabi saw saat beliau mendoakan Abu Amir dan Abu Musa. Kedua hadist tersebut disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
  • Saat berdoa dalam perjalanan, sebagaimana disebutkan dalam hadist Abu Hurairah ra tentang orang yang berada dalam perjalanan jauh (Shahih Muslim).
  • Saat bersyukur kepada Allah Swt, sebagaimana dilakukan oleh Abu Bakar ra saat Nabi saw shalat di belakangnya dan memberi isyarat agar ia tetap di depan memimpin shalat (Shahih Bukhari Muslim)
  • Saat berdoa untuk tidak disiksa. Aisyah r.a berkata, “Aku melihat Nabi saw berdoa sambil mengangkat kedua tangannya :

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia, maka jangan Kau siksa aku. Siapa saja orang dari kaum Mukminin yang aku ganggu atau aku ejek, jangan Kau siksa aku karena.”

  • Ketika berdoa untuk orang sesat agar mendapatkan hidayah. Nabi saw berdoa untuk Kabilah Daus agar ia mendapatkan hidayah. Ini diriwayatkan dari Abu Hurairah ra
  • Ketika berdoa untuk orang-orang yang sudah mati agar ia mendapatkan ampunan, sebagaimana dilakukan Nabi saw pada orang yang terluka kedua tangannya “Ya Allah, dan untuk kedua tangannya, maka ampunilah” (al-Majmu’ <III/489>)
  • Saat mendoakan keburukan untuk orang yang memukul istrinya. Rasulullah saw dalam persoalan istri Walid, beliau berdoa “Ya Allah hukumlah Walid”
  • Saat berdoa untuk para peziarah orang shalih, sebagaimana dilakukan Nabi saw saat berdoa untuk orang yang menjenguk Utsman ra
  • Saat berdoa qunut, seperti yang pernah dilakukan Ibnu Mas’ud (al-Majmu’ III/490)
  • Saat berdoa untuk umat, sebagaimana disebutkan dalah Shahih Muslim, Nabi saw mengangkat kedua tangannya dan berdoa “Ya Allah, (tolonglah) umatku, (tolonglah) umatku”
  • Saat meninggalkan Arafah. Nabi mengangkat kedua tangannya namun tidak melampaui kepala beliau. (HR. Imam Muslim, Ahmad dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas ra)
  • Saat mendoakan orang-orang shalih, sebagaimana Nabi saw mendoakan Thalhah (HR. Tabrani dengan sanad shahih). Beliau juga mendoakan Saad bin Ubadah.
  • Saat mendoakan kuda dan pasukan dengan keberkahan. Disebutkan dalam hadist Tabrani dari Khalid bin Urthufah saat Nabi saw mendoakan kuda Ahmas dan pasukannya dengan keberkahan.
  • Saat berlepas diri dari perbuatan buruk. Rasulullah saw berdoa “Ya Allah, sesungguhnya aku lepas diri dari apa yang dilakukan Khalid”

Saran saya ikutilah orang itu karena dia benar jangan ikuti kebenaran karena seseorang tetaplah mencari kebenaran melalui Al-Qur’an dan Hadist yang Shahih