Generasi muda sekarang banyak yang mengistilahkan sebagai generasi mobile, entah karena memang mereka gemar naik mobil ke mana-mana, atau karena senang ber haha-hihi sambil jalan dengan memakai mobile phone, atau justru karena selalu bergerak kesana kemari (kadang ga tau harus kemana) persis seperti mobil angkot mencari penumpang.

Tapi memang hidup ini mobile berjalan terus ke depan dan tidak pernah kembali ke belakang. Waktu yang telah kita lalui meskipun sedetik, bisa dikatakan masa lalu yang tidak terulang lagi. Masa lalu adalah jarak yang paling jauh dan tidak dapat tercapai lagi.

Syair lagu bimbo mengatakan hidup ini bukan bulatan bola yang tiada ujung dan tiada pangkal. Tapi hidup ini seperti garis lurus yang pasti akan sampai ke tujuan. Karena itu, kita harus terus dan terus bergerak hingga suatu saat berhenti pada satu titik yang bernama kematian.

Hiyy, syerem banget kalau dengar kata kematian. Tapi bagaimana lagi, kita semua kan camat alias calon mati. Mau nggak mau kita harus tahu bagaimana rumah masa depan kita nanti

Inget lo, bukan berarti dengan kematian lalu kita selesai sampai disitu aja, bersatu dengan tanah, dari tanah kembali ke tanah. Ada alam lain yang menanti kita, suatu tempat yang masih misterius di mana kita semua kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Buah dari mobilitas kita selama di dunia akan dihitung seadil-adilnya di sana oleh Allah yang Maha Adil

Mari kita simak firman Allah berikut :

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya, Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia , maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikian balasan mereka itu neraka jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok” (QS. Al-Kahfi : 103-106)

Dari keempat ayat tersebut dapat kita pahami bahwa orang yang mobilitasnya di dunia ini selalu bertentangan dengan perintah Allah bahkan kafir kepada-Nya maka amalannya akan sia-sia, dan mendapat balasan neraka jahannam.

Tapi untuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh yang mobilitasnya selalu dalam rangka mencari ridha-Nya, Allah akan memberikan balasan yang sesuai, yakni surga yang sangat indah.

Kelanjutan dari surat Al-Kahfi di atas menunjukkan akan hal tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya” (QS. Al-Kahfi : 107-108)

Tuh kan… enak banget kalau rumah masa depan kita ada di surga firdaus, kekal dan betah di dalamnya dan yang pasti nggak akan pernah ada penggusuran

Walaupun kita sudah paham bagaimana mobilitas kita yang seharusnya, tapi banyak diantara kita yang masih saja gamang dalam menjalani mobilitas, sehingga segala yang kita lakukan cenderung mengikuti arus saja.

Kenapa bisa terjadi demikian ?

Itu karena mereka belum sepenuhnya memahami 5W + H

Who am I ?
What do we live ?
When we live ?
Why do we live ?
Where do we live ?
How do we live ?

Orang yang mengerti 5W+H, hidupnya tidak akan mengalami stagnasi atau putus asa dalam menjalani aktivitasnya, karena ia sangat yakin dengan dirinya. Ia sangat memahami arti dan tujuan hidupnya sehingga mobile yang ia lakukan selama ini akan terkonsep dengan baik. Misalnya aja saya. Who am I ? siapa saya ? cukupkah saya hanya menjawab sekedar nama dan anak dari siapa ? Rasanya nggak deh! Kita harusnya menjelaskan siapa kita dengan bahasan yang lebih luas. Ujungnya, kita akan menjawab, saya adalah hamba Allah Swt yang mempunyai tugas menjadi khalifah filardh, dan akan dimintai pertanggung jawaban-Nya

What do we live? Apa yang kita lakukan dalam hidup ini masih ada kaitannya dengan siapa saya tadi. Bahwa yang harusnya kita lakukan adalah ibadah kepada-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Dunia adalah ladang amal yang harus kita isi dengan kebaikan. Akhirat nantinya adalah tempat kita memetik hasilnya. Karenanya, mumpung masih hidup kita harus berbuat yang terbaik sebagai hamba-Nya.

When we live? Kapan kita hidup, tentu saja sejak ibu melahirkan kita. Tapi kapan hidup kita akan berakhir, tak ada yang mengetahuinya selain Allah Swt.

When do we live? Mengapa kita hidup, jawabannya sudah sering saya ulas di atas, menjadi hamba yang harus taat beribadah kepada-Nya. Allah menciptakan kita dan seisi dunia tidak dengan sia-sia, maka kerugian yang sangat berat jika kita menyia-nyiakannya.

Where do we live? Dimana dan kemana hidup kita. Pertanyaan yang sebenarnya biasa, namun jika kita maknai mendalam, akan membawa kita pada satu muara penghambaan yang sungguh. Dunia, tempat melakukan amal. Akhirat, tempat menuai amal.

How do we live? Bagaimana kita hidup, kita pasti sangat bisa menjawabnya. Apakah kita menjalani hari-hari kita dengan kemaksiatan dan kemungkaran, atau sebaliknya, mengisi dengan hal-hal positif dan bermanfaat.

Semua pertanyaan mendasar itu harusnya selalu kita ingat. Agar dalam setiap tindakan yang akan kita ambil, kita tidak salah langkah.

Orang yang baik juga memiliki planning, organizing, actuating, dan controlling sehingga punya tujuan yang jelas. Ia selalu menganalisa kekuatan, kelemahan, dan peluang yang dimilikinya tapi ia tetap yakin ada variable lain di luar kekuatannya.

Jadi, jika semua usaha telah ia laksanakan dengan sungguh-sungguh tapi mengalami kegagalan, maka ia akan mengembalikan semuanya kepada Allah. Itulah yang dinamakan tawakal.

Tawakal, bukanlah sikap pasif seperti menunggu kareta api di stasiun, tapi ia juga gerakan aktif mencari solusi dari setiap solusi dari setiap masalah yang terjadi, mencari dimana letak kesalahan yang menyebabkan usaha kita mengalami kegagalan. Nabi pernah menegur sahabatnya yang membiarkan begitu saja kudanya tanpa diikat saat akan memasuki masjid dengan alasan tawakal. Beliau bersabda : “ikatlah kudamu dulu baru tawakal”

Bergeraklah terus, manfaatkanlah potensi yang ada dalam dirimu sebaik-baiknya. Ingat mobilitas yang disertai perencanaan yang baik dan dalam kerangka mencari ridha-Nya akan mendapatkan hasil yang baik pula.

Siapa sih yang nggak ingin tinggal di dalam surga firdaus seperti yang dijanjikan Allah pada setiap hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Kamu mau juga kan? Sama!!