Salah satu perhiasan yang harus dimiliki oleh seorang cewek adalah sikap dan hati yang lemah lembut. Lembut dalam berbicara dan sopan santun dalam bersikap. Nggak enak kan kalau melihat anak cewek di jalan teriak-teriak kayak tarzan, tertawa nyablak seenaknya, bahkan lewat di depan orang tanpa permisi. Ih, risi banget melihatnya kan

Jangan salah sangka mengartikan orang yang lemah lembut itu adalah orang yang lemah. Bedain donk, antara lemah lembut sama orang lemah, apalagi sama lelembut J

Tapi jangan buru-buru menyimpulkan orang yang lemah lembut itu adalah orang yang berbicaranya mendayu-dayu, merayu, dan gerak tangannya lemah gemulai kayak penari jawa. Namun lemah lembut itu cenderung pada hati dan sikapnya. Memang anugerah Allah buat seorang wanita salah satunya adalah suaranya yang lembut dan indah, hanya saja tidak boleh diobral sembarangan apalagi sama cowok. Nggak deh

Bersikap lemah lembut bukan berarti harus merayu orang, tapi melunakkan dan memelankan suara kita, tetap sopan, jelas dan lugas. Allah Swt dalam Al-Qur’an banyak menyinggung tentang masalah berbicara lemah lembut.

ketika sedang menasihati orang atau berdakwah “maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaha : 44)
lemah lembut pada muhrim kita. Jangan berbicara lembut pada laki-laki yang bukan muhrim karena dikhawatikan suara kita membuat mereka senang. Berbicaralah yang sopan tapi tegas. “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya , dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al-Ahzab : 32)
lemah lembut kepada orang tua kita, “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al-Isra : 23)
melunakkan suara ketika berbicara pada semua orang (bukan berarti mendayu-dayu). “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (QS. Luqman : 19)
lemah lembut dan kasih saying terhadap sesama muslim dan tegas terhadap orang kafir. Lemah lembut dan berkasih saying disini bukan antara dua orang berlainan jenis tapi bersifat universal kepada sesama muslim. Bukankah sesama muslim itu bersaudara ?
lemah lembut ketika berdoa kepada Allah. “Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-A’raf : 55)

Selain berbicara yang lemah lembut, ada beberapa hal dalam berbicara yang selayaknya kita perhatikan, yaitu :

berbicara yang baik dan pantas jika menolak permintaan orang. “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Rabbmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas” (QS. Al-Isra : 28)
berbicara yang berbekas, memberi arti pada jiwa mereka. “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (QS. An-Nisa : 63)
berbicara yang berbobot. “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat” (QS. Al-Muzzamil : 5)
berbicara yang mulia “dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al-Isra : 23)
berbicara yang benar. “dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik” (QS. An-Nisa : 8)
berbicara yang baik. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat : 33)

Rasulullah saw adalah teladan yang sangat jelas untuk kita semua. Kita tentu ingat, bagaimana kelembutan hati beliau yang menjenguk pertama kali saat orang yang biasa meludahinya di jalan sakit keras. Kita tentu juga tidak lupa, Rasulullah saw orang yang pertama kali lapar dan terakhir kali kenyang diantara umatnya. Rasul pun yang merelakan tidak punya harta melimpah namun tetap bisa wibawa. Beliau selalu berlemah lembut pada kaum muslimin dan bersikap tegas pada orang kafir.

Lalu kelembutan hati itu juga menyebar pada para sahabat disekitarnya. Ada Abu Bakar Shidiq yang demikian luar biasa melayani rakyatnya. Ada Umar bin Khattab yang selalu menangis pada 1/3 malam terakhirnya. Ada Ustman bin Affan si kaya raya yang merelakan seluruh hartanya untuk islam, ada Ali bin Abi Thalib yang berkenan menggantikan Rasul di atas ranjangnya dan akan dibunuh kaum Quraisy. Ada sahabat dan sahabiyah lainnya yang dengan kelemah lembutan hatinya, membawa islam pada masa kejayaan. Ya, karena islam memang rahmatan lil’alamin.

Nah, sedemikian indahnya hidup dengan kelemah lembutan sikap dan perilakunya. Semoga kita bisa meneladani mereka. Dan seperti nasihat Umar bin Khattab, berbicaralah yang baik atau diam