Ummul ‘Allam berkata, ‘orang-orang (kaum anshar) mengadakan undian untuk menampung kaum muhajirin. Kebetulan rumah kami mendapat undian untuk diinapi Ustman ibn Mazh’un. Tidak lama setelah menginap di rumah kami, Ustman diserang penyakit yang menyebabkan ia meninggal. Setelah Ustman dimandikan san dikafani dengan bajunya, Rasulullah saw datang. Saat itu aku berkata di hadapan jasad Ustman, ‘rahmat Allah atas engkau, wahai Abu Saib! Aku bersumpah, Allah pasti memuliakanmu’. Rasulullah saw kemudian berkata, ‘apakah engkau tahu bahwa Allah Swt memuliakannya?’ aku pun menjawab, ‘lantas siapa yang sebenarnya dimuliakan oleh Allah, wahai Rasulullah?’ Rasulullah saw kemudian berkata, ‘ia (Ustman) sudah mati. Demi Allah! Aku berharap ia mendapat kebaikan. Tapi aku tidak tahu pasti. Aku saja, sebagai utusan-Nya, tidak mengetahui apa yang akan Allah perbuat padaku’ setelah itu aku bersumpah kepada diriku, ‘demi Allah! Sejak saat ini aku tidak akan memuji-muji orang lagi, selamanya’. (HR. Bukhari)

Keterangan Hadist

Menyucikan seseorang secara berlebihan, seperti menganggapnya sebagai wali Allah, pasti masuk surga dan sebagainya, termasuk ke dalam kategori mendewakan seseorang. Jika orang tersebut memang pantas dianggap demikian, sebaiknya kita mengatakan, ‘kami berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah’. Ini merupakan etika kita kepada Allah Swt hanya Allah sendiri yang mengetahui dengan pasti siapa orang itu sebenarnya. Kita tidak layak mendahului Allah dalam memuji seseorang. Selain itu, Rasulullah saw juga telah memberikan teladan kepada kita dalam hal ini. Beliau pernah berkata, ‘demi Allah! Aku sendiri sebagai utusan-Nya, tidak tahu apa yang akan diperbuat Allah terhadapku’