Kamu percaya nggak kalau sekarang banyak orang yang tidak mengenal dirinya sendiri?

Ah, masa sih? Bukankah setiap orang pasti punya nama yang diebrikan ortunya masing-masing atau yang diebrikan produser saat menjadi artis. Kalau lupa sama namanya kan bisa ngeliat di KTP atau kartu namanya, atau bahka di kartu kredit.

Memang kalau lupa namanya sendiri sih nggak terlalu bermasalah walau rada-rada aneh juga, tapi kalau yang ini adalah lupa yang bener-bener lupa! Lupa sama jati dirinya sendiri! Orang-orang yang seperti ini bener-bener lupa siapa dirinya sehingga ia lupa rasanya menjadi diri sendiri.

Mereka senantiasa berganti peran setiap saat selayaknya artis yang sedang memerankan salah satu tokoh dalam cerita dan bisa berganti peran dalam waktu cepat. Mungkin saat ini kita bisa mengatakan kepadanya you are you, tapi besoknya you are him, you are her bahkan you are them. Repot banget ya!

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lupa sama jati dirinya :

ikut-ikutan teman. Orang-orang seperti ini selayaknya ranting pohon di dalam arus sungai. Ia ikut kemana saja arus mengalir, nggak peduli kalau yang diikutinya baik atau tidak. Yang penting gaul! Allah berfirman “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya” (Qs. Al-Isra : 36)
terlena. Saat seseorang telah mendapatkan banyak kesenangan dunia mereka sering kali mengubah segala kebiasaan masa lalunya dengan kebiasaan baru yang sesuai dengan standard hidupnya sekarang. Mungkin dulu makan di warteg sudah cukup, tapi sekarang makan di restaurant, café atau club eksekutif adalah suatu keharusan. Jalan-jalan keluar negeri sekalian wisata belanja menjadi kewajiban setiap bulannya. Dunia ini fana, janganlah kita terlena dengan kenikmatannya, Allah Swt memperingatkan kita, “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya , dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya , tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir” (QS. Yunus : 24)
mencampur adukkan yang hak dan yang batil. Orang yang kehilangan jati dirinya tidak pernah bisa membedakan mana yang hak dan yang batil, ia sudah terbiasa dengan kepalsuan dan tipu daya yang penting menguntungkan baginya. “Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 42)
keras hati, tidak mau mendengarkan teguran dan peringatan. Saat ada orang yang memberiakan nasihat padanya agar ia tidak tersesat lebih jauh, orang seperti ini biasanya menentang dengan keras, ia tidak bergeming sedikitpun. “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah : 74)

nah, apabila jati diri kita masih ingin melekat di badan, cobalah untuk menjadi diri sendiri tidak perlu ikut-ikutan orang. You are you, kamu adalah diri kamu sendiri yang akan dimintai pertanggung jawaban sama Allah nanti juga sendiri. Jangan sampai terlena oleh kehidupan di dunia karena dunia ini hanya sementara dan kita Cuma numpang lewat. Sungguh, kehidupan di akhirat itu abadi dan kekal selamanya.