Manusia dikaruniai akal oleh Allah untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga kita bisa menangkap peluang-peluang yang ada di sekitar kita. Kalau saja peluang yang kita miliki tidak kita manfaatkan, maka kita tidak akan berdaya guna dan berhasil guna. Intinya, cantik tapi kok ga punya otak, hehe… nggak boleh marah!

Tapi bukan berarti kita melakukan aji mumpung lho, mentang-mentang kita dikaruniai wajah cakep dan body sexy, ada peluang jadi model kita ambil, main film porno disamber aja. Mentang-mentang bapak kita pejabat kita manfaatin fasilitas negara, bisa beli mobil mewah impor semaunya dan lain-lain.

Dari bahasan-bahasan sebelumnya pasti kita sudah mengerti kalau peluang-peluang yang seperti apa yang bisa kita manfaatkan. Boleh sih kita aji mumpung … maksudnya mumpung masih muda kita beribadah lebih tekun, mumpung kita masih kaya kita beramal lebih banyak, mumpung kita sehat ke masjid lebih sering dan sebagainya.

Jadi intinya, mumpung kita punya peluang berbuat kebaikan, maka samber aja peluang itu jangan dibiarkan lewat begitu saja.

Masih ingatkan pada sabda Nabi saw, ingat 5 perkara sebelu 5 perkara ?
Ingat masa muda sebelum masa tuamu
Ingat masa lapangmu sebelum datang masa sempitmu
Ingat masa sehatmu sebelum masa sakitmu
Ingat masa kayamu sebelum datang miskinmu
Ingat hidupmu sebelum matimu

Lima perkara di atas adalah peluang untuk kita, sebelum datangnya lima perkara yang bisa menghilangkan peluang tersebut. Saat muda kita bersenang-senang, ke diskotik, clubbing dan segala macam hiburan lainnya, lupa deh sama ibadah. Ketika tua ibadah pun akan sulit karena tidak terbiasa.

Masih mending dikasih umur panjang yang berarti ada kesempatan untuk bertobat, lha kalau hidupnya singkat? Rugi banget khan?!

Ketika kita mempunyai waktu luang, kita berleha-leha seharian, lupa deh ada tugas yang harus dikerjakan. Eee… pas bagian deadline kita sibuk wara-wiri nyari pinjaman paper ke teman. Syukur-syukur dipinjemin, kalau enggak? kan dongkolin banget. Mana mau ujian lagi.

Ketika sehat kita malas menjaga kesehatan, makan makanan junk food, minum-minuman soft drink bahkan sering yang beralkohol dan lupa lagi sama ibadah, pas sakit merintih-rintih, berkeluh kesah mohon sama Allah agar disembuhkan.

Waktu kaya, kita malas untuk bersedekah, tapi pas miskin kita jadi pelit. Duh, gimana sih padahal Allah sangat membenci orang miskin yang pelit dan sombong.

Peluang yang terbesar yang tidak boleh kita lewatkan adalah karena kita masih diberikan umur panjang oleh Allah. Sekali lagi, kesempatan hidup di dunia ini cuma sekali. Manfaatkan kehidupan ini dengan baik.

Ada pepatah dari Ali bin Abi Thalib yang layak kita renungkan yaitu “kita tidak boleh mati ketika kita hidup, tapi kita harus hidup meskipun telah mati”. Itu artinya selama kita masih hidup, hendaknya melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tubuh ini bukan hanya sepotong daging yang berjalan, tapi juga mempunyai hati dan otak yang harus digunakan sehingga ketika saat kematian kita tiba bahkan jauh sesudah kita meninggalkan dunia ini, masih banyak amal kita yang bermanfaat buat orang banyak.

Peluang-peluang kebaikan banyak bertebaran di sekitar kita. Hanya saja, kadang kita tidak peka bahwa itu adalah peluang amal kebaikan. Misalnya saja menebar salam. Kita masih malas menyapa teman kita dengan assalamu’alaikum atau malah kita malu ketahuan agama kita islam?

Duh… kita harus berani donk menunjukkan identitas kemusliman kita! Termasuk jilbab, akhlak, ibadah dengan segala derivasinya.

Ada kisah menarik dari seorang ibu rumah tangga dengan dua putranya yang sangat menggemaskan. Suati kai, si adik yang selesai makan meninggalkan piringnya begitu saja, padahal selama ini ibunya selalu mengajarinya untuk mencuci piringnya sendiri. Lalu sang ibu yang sedang sibuk meminta si kakak untuk mencucikan piring adiknya. Si kakak tidak mau. Dengan lemah lembut sang ibu berkata,

“bukankah amal kebaikan itu harus diperebutkan? Mengapa peluang beramal baik ini kakak tolak?”

Subhanallah! Sang ibu mengajari anaknya memanfaatkan peluang sebaik-baiknya.

Kemudian kalau aa’gym, peluang berbuat baik itu tergantung diri kita sendiri mau apa nggak. Ada sampah di lantai, mau nggak kita mengambilnya. Ada teman yang bertamu ke rumah kita, mau nggak kita memuliakannya. Ada pengemis yang menadahkan tangan, mau nggak kita sedekah. Ada yang ramai-ramai bergosip, mau nggak kita meninggalkannya dan berkhusnudzan. Dan peluang-peluang kebaikan lainnya yang tak terhitung jumlahnya.

Lalu mengapa kita masih bingung untuk beramal baik?