Jangan-jangan sebagian di antara kamu baru sekali ini mendengar kata qana’ah? Nggak familiar gitu! Makanya gaul donk, masa qana’ah aja nggak ngerti malah dikira markonah tukang gado-gado, atau mpok minah? Ih dasar.

Qana’ah artinya merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan atau Allah berikan kepada kita. Sikap qana’ah ini akan membuahkan rasa syukur kepada Allah. Bagaimana nggak bersyukur sedang Allah begitu Maha Pemurahnya memberikan segalanya gratis buat kita. Tuh, kesehatan, ilmu, waktu luang, fasilitas alam dan banyak nikmat lainnya. Semuanya Allah berikan untuk manusia, gratis tis…!

Membina sikap qana’ah memang cukup sulit, apalagi di zaman materialisme dan budaya konsumerisme seperti sekarang ini. Segala kebutuhan dan kehidupan selalu dinilai dengan uang. Maka ketika tidak mempunyai uang, manusia merasa miskin dan kekurangan. Dan kemudian orang selalu saja merasa kurang dengan apa yang didapatkannya. Coba kamu, kalau pegang uang 1000 pasti berandai-andai punya 10.000. udah pegang 10.000 mesti berandai-andai punya 100.000. yang punya 100.000 juga pengen pegang 1.000.000. begitu seterusnya, bahkan menjadi orang kaya yang serba punya pun akan selalu merasa kurang.

Padahal sesungguhnya jika kita mau merenung, orang yang selalu merasa kurang meski dia telah mempunyai banyak harta, itulah sesungguhnya orang yang miskin. Bukankah dia tidak qana’ah dan selalu ingin mempunyai lebih? Sedang orang yang kaya sesungguhnya adalah orang yang senantiasa merasa cukup dengan apa yang ada di tangannya. Dia tidak kekurangan dan sepenuhnya yakin bahwa rezeki datangnya dari Allah. Jadi kekayaan bukan terletak pada berapa banyak harta yang kita punya, namun bagaimana kita bersikap terhadap harta tersebut. Cukup atau kekurangan.

Bagaimana dengan kita? Jika kita masih saja kurang, berarti kita adalah orang miskin. Namun jika kita merasa cukup dan senantiasa bersyukur, kita adalah orang kaya. Setidaknya kaya hati dan jiwa.

Godaan terbesar dari budaya materialisme saat ini banyak menimpa para gadis. Kita memang suka melihat sesuatu yang indah. Coba siapa yang tahan ngeliat pakaian mode terbaru yang kemarin dipakai seorang artis terkenal di televisi tiba-tiba sudah mejeng di mall, teman kuliah kita kelihatan anggun dengan tas Prada dan Gucci, lalu teman kursus kita yang tinggi semampai, kakinya indah berhias sandal Yongki Komaladi. Duh, pengeen!

Mungkin kita bisa berkamuflase dengan tiruan benda-benda itu yang bisa kita beli di pasar-pasar, tapi yang namanya nafsu mana mau sih diturutin dengan barang tiruan doank, kalau ketahuan teman yang senang branded gimana? Gengsi donk!

Godaan lain yang membuat kita susah bersikap qana’ah adalah maraknya bursa handphone di tanah air. Rasanya setiap hari adaaaa… aja HP keluaran terbaru yang masuk ke indonesia dan yang pasti bikin ngiler. Jadilah kita sebagai generasi yang biasanya make doank ganti-ganti HP. Habis ketinggalan zaman banget. Kata teman sih, pantesnya buat ngeganjal pintu.

Kalau fitur-fitur di HP keluaran terbaru itu memang kita butuhkan dan kita mempunyai uang untuk membelinya sih nggak apa-apa, tapi kalau nggak ya nggak usah dipaksain lah! Fungsi utama HP kan untuk berkomunikasi, kalau itu sudah mencukupi ya nggak usah memaksakan diri apalagi sampai ngambek dan ogah sekolah hanya karena ingin ganti HP. Dih, malu-maluin. Seadanya saja tapi bersahaja gitu lo… itu yang namanya qana’ah.

Berhubungan dengan qana’ah ini, ada satu ayat yang rasanya perlu kita simak “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain” (QS. An-Nisa : 32)

Wah, Allah sangat mengerti banget kalau kita-kita para cewek suka pada sirik kalau ngeliat orang lain lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses dan sebagainya. Maknanya sampai disindirin segala di Al-Qur’an.

Sebetulnya ngapain sih mesti iri dengan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Biarin aja mereka memakai segala sesuatu bermerek, kita dengan pakaian sederhana yang kita miliki pun tetap kelihatan cantik kok. Bahkan lebih cantik daripada mereka (PD neeh, hehe…). Lagipula dala salah satu firman-Nya, Allah mengatakan bahwa sebaik-baiknya pakaian ialah pakaian takwa. Tuh kan… jadi untuk apa kita ngeributin merek kalau kita sudah punya pakaian terbaik yaitu pakaian takwa.

Selain membuahkan rasa syukur yang terus menerus kepada Allah, sikap qana’ah juga menghasilkan ketenangan dalam diri kita. Terserah teman mau pakai pakaian semahal apapun, kita nggak akan pernah ngiri apalgi dengki. Jauhlah…

Tapi ada satu hal yang patut kita catat, sikap qana’ah bukanlah tawakal buta dan pasrah tanpa mau berusaha, apalagi dalam hal menuntut ilmu, masa teman kita dapat IP tiga koma atau ranking tiga besar di sekolah, kita merasa cukup dengan PMDK (Persatuan Mahasiswa Dua Koma, hehehe) atau dengan ranking tiga dari belakang dengan alasan kita harus qana’ah. Wah, itu mah qana’ah yang salah kaprah.

Akhirnya, qana’ah bukan dijadikan alasan buat kita bermalas-malasan. Ingat, selama masih hidup kita wajib harus terus berusaha.