Kita mungkin sering ya, menggunakan kata riya dalam keseharian kita. Saat melihat si fulan pamer pakaiannya yang baru dibeli dari australia, kita akan bilang, ah… riya! Atau ketika teman kita dapat nilai ulangan sepuluh dan diomongin kemana-mana, kita juga akan menyebutnya riya.

Sebenarnya apa sih riya? Apakah benar riya hanya sebatas dicontohkan diatas? Ternyata enggak tuh!

Iya deh biar dijelasin, riya itu artinya berbuat sesuatu atau amalan karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain, bukan karena Allah. Bisa karena cari perhatian, mencari sensasi, biar dikatakan ‘wah’ dan sebagainya.

Misalnya saja, orang yang berinfak di masjid karena dilihat banyak orang. Apalagi jika dia menyebut-nyebut nominal yang dia sumbangkan. Lalu ada juga yang rajin shalat biar dianggap orang shaleh, rajin belajar biar dikira anak pintar, menolong orang lain biar dikatakan pemurah. Dan sebagainya. Intinya, jika seseorang melakuakn suatu hal yang niatnya bukan karena Allah, itulah riya. Dan yang mengetahui hal itu hanyalah si pelaku dan Allah semata, bukan orang lain. Lawannya riya yaitu ikhlas.

Kadang batas antara ikhlas dan riya memang begitu tipis, bahkan ada suatu hadist yang berbunyi “takut untuk berbuat riya termasuk berbuat riya juga”. Nah lo… terus gimana donk?

Menurut Ali bib Abi Thalib, ada 4 perkara yang membuat riya yaitu:
malas beramal ketika tidak ada manusia yang melihat
pemurah dan rajin beramal saat dilihat orang
amal ibadahnya meningkat ketika dipuji
amal ibadahnya menurun ketika dicela

bagaimana dengan kita? Apakah amalan yang kita lakukan selama ini sudah bersih dari riya? Kalau belum, yuk sama-sama kita benahi, agar Allah mencatatnya sebagai amalan yang tidak sia-sia.

Dalam suatu hadist dikatakan bahwa riya juga termasuk syirik kecil. Sabda Nabi saw.

“syirik kecil adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya bagi kalian”

Mengapa bisa riya dikatakan sebagai syirik kecil? Karena orientasi yang dia lakukan bukan lagi karena Allah namun karena yang lain. Tujuannya udah beda. Jadi benar kata Rasul kalau riya bisa termasuk syirik kecil.

Lalu para sahabat bertanya apakah syirik kecil itu ya, Rasul?

Beliau menjawab: “riya, besok di hari kiamat Allah menyuruh mereka mencari pahala amalnya, kepada siapa amalnya ditujukan. Firman-Nya: ‘carilah manusia yang waktu hidup di dunia kamu beramal tujuannya hanya ingin disanjung oleh mereka, mintalah pahala pada mereka’.”

Ih, sayang banget ya kita udah capek-capek beramal, eh nggak dapat pahala apa-apa di mata Allah hanya karena kita punya sifat riya alias ingin dipuji oleh orang. Lalu bagaimana ya sebaiknya kita bersikap ikhlas itu?

Mengenai masalah ikhals dalam beramal ada yang mencontohkan secara ekstrim. Ikhlas itu seperti orang buang air besar (maaf lo ya…). Dia tidak akan mengingat apa yang telah dikeluarkan dan tidak tahu kemana ‘larinya’ sesuatu itu.

Begitu juga dengan ilustrasi mengenai penggembala domba yang sedang shalat di dekat domba-dombanya, apakah ia ingin dipuji oleh domba-dombanya? Tidak kan? (emang ada domba yang bisa muji?)

Mungkin yang lebih romantis lagi ungkapan seorang penyair yang mengatakan bahwa sekuntum bunga di atas gunung akan mekar dengan indahnya, tidak peduli ada orang yang akan mengagumi kecantikannya atau tidak.

Maka dari itu, ada atau tidak manusia di depan kita, seharusnya kita tetap beribadah dan beramal karena orientasi dari ibadah kita bukan ingin dilihat oleh orang, tapi dilihat oleh Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 110 :

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya”

Masih bingung memisahkan riya dari ikhlas? Takutnya kita capek-capek beramal eh, nilainya minus di sisi Allah. Apa lebih baik nggak beramal saja sekalian? Wah, ini sih namanya mogok beribadah, sekalian cari alasan untuk menutupi malas-malasnya kamu. Jangan begitu, kita tetap harus berbuat baik!

Begini saja deh, ketika akan melakukan suatu perbuatan baik, berbuatlah sewajar mungkin dan jangan mengingat ekses di balik amalan kamu. Kamu beramal karena memang Allah yang memerintahkan, titik! Jadi ada orang yang memuji atau nggak masa bodohlah, emang gue pikirin.

Terus bagaimana ya kalau kita beramal diam-diam, eeh… tiba-tiba ketahuan orang lalu tiba-tiba ada rasa bangga menyelusup di dalam hati?

Menurut Nabi dalam sabdanya, orang yang seperti itu akan mendapatkan dua pahala, yang pertama ialah pahala beramal secara diam-diam (karena tadinya pun ia betul-betul berniat seperti itu) dan yang kedua ialah pahala sampingan dari orang yang mengikuti/mencontoh amalannya. Tapi dengan catatan, rasa bangga itu harus cepat-cepat kita singkirkan. Ingat selalu bahwa kita bisa beramal juga karena nikmat Allah. Kalau Allah nggak ngasih rezeki (uang) kita mana mungkin bisa beramal. Ya nggak?

Nah, sekarang tetaplah beribadah dan beramal sebanyak-banyaknya, jangan pedulikan orang lain. Bersikap sewajar mungkin, biar Allah yang menilai, ok?