sebagian ulama ada yang mengelompokkan kemunculan fitnah Dajjal sebagai salah satu tanda/batas diterimanya keimanan seseorang, sebagaimana terbitnya matahari dari barat dan munculnya binatang melata dari perut bumi. Allah berfitman, “pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau ia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya” (QS. Al-An’am : 158). Tentang ayat tersebut, sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sebagian ayat-ayat Rabb-mu adalah terbitnya matahari dari barat, munculnya dabbah (binatang melata yang keluar dari perut bumi dan bisa berbicara kepada manusia) dan munculnya Dajjal. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah saw bersabda, “ada 3 perkara yang apabila terjadi, maka tidaklah bermanfaat iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau belum mengusahakan kebaikan dalam imannya, yaitu terbitnya matahari dari barat, Dajjal dan keluarnya binatang dari dalam bumi” (HR. Muslim)

jika benar bahwa kemunculan Dajjal adalah salah satu tanda batas diterimanya keimanan seseorang , maka betapa meruginya mereka yang belum beriman di saat Dajjal telah muncul. Wallahu a’lam bish shawab.

Maraknya praktik perdukunan dan dunia paranormal telah menyesatkan banyak orang. Telah menjadi pemandangan yang lazim, jika ada seorang dukun sakti yang memiliki sedikit saja keluarbiasaan, maka orang –orang akan berdatangan dan menjadikannya sebagai tempat menumpahkan segala problem dan permasalahan mereka. Mereka dengan mudah berpaling dari petunjuk syariat kepada dukun-dukun itu hanya karena sedikit ujian yang menimpa mereka. Dapatkah kita bayangkan bagaimana jika zaman di saat Dajjal muncul kondisi sebelumnya dalam keadaan serba kacau, kezhaliman telah merata, dan manusia dilanda pertikaian antar sesama sehingga kesulitan hidup menimpa banyak manusia? Jika dalam kondisi seperti itu Dajjal datang sementara kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa ia adalah Dajjal, maka yang akan terjadi mudah ditebak, sebagian manusia akan berpaling padanya dan menyerahkan segala urusan hidupnya kepada si Dajjal. Bukan mustahil jika saat itu banyak manusia yang mendewakannya, bahkan menuhankannya.

Dajjal memiliki banyak kelebihan dan kemampuan yang menjadi hak Allah. Dajjal mampu menghidupkan orang mati, menyembuhkan tunanetra dan penyakit sopak, menurunkan hujan, serta mendatangkan makanan dan minuman dari tangan kanan dan kirinya. Semua kemampuan ini akan menyeret jutaan manusia untuk mengkultuskan, mendewakan dan menuhankannya. Bukan sekedar perasaan, namun betul-betul secara dzatnya mereka meyakini bahwa Tuhan pencipta alam semesta telah turun ke dunia dalam bentuk seorang Dajjal untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran. Ini semua betul-betul akan terjadi. Maka memperhatikan fitnah Dajjal merupakan sesuatu yang sangat urgen agar seseorang selamat dari bahayanya.

Dajjal memiliki kemampuan penyamaran yang sangat canggih. Inilah makna Dajjal secara umum. Asal makna Dajjal ialah “Al-Khalath” (mencampur, mengacaukan, membingungkan). Dajjal bermakna penipu, pelaku manipulasi, penyamaran, syubhat, dan kebohongan yang terbungkus dengan rapi. Inilah yang membuat seseorang sulit untuk selamat dari fitnah syubhatnya. Kemampuan Dajjal untuk merubah bentuk dirinya menjadi besar dan kecil telah membingungkan kebanyakan manusia, bahkan Rasulullah saw dan para sahabatpun dibuat bingung oleh fitnah Ibnu Shayyad sang Dajjal. Mereka terpecah menjadi dua kelompok, ada yang meyakini bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal yang akan dijanjikan muncul di akhir zaman, dan ada yang sebatas mengelompokkannya sebagai salah satu dari 30 Dajjal pendusta. Jika generasi terbaik pun sempat terkecoh dengan ulah Dajja, lalu bagaimana dengan manusia akhir zaman yang hidup dalam kondisi fitnah, jauh dari Nabi secara fisik, dan sudah terpecah belah?

Pengikut Dajjal sangat banyak, mereka bukan hanya 70.000 Yahudi Asbahan yang setia menemaninya, namun seluruh manusia di berbagai penjuru dunia akan bercita-cita untuk bisa bertemu dengan Dajjal dan memberikan simpati dan dukungannya. Meski kebanyakan pengikutnya adalah orang-orang awam yang lemah iman, namun Rasulullah saw juga tetap mengingatkan kepada setiap mukmin yang merasa memiliki iman yang kuat untuk tidak menemui Dajjal. Sungguh akan ada orang yang merasa imannya kuat dan tidak merasa khawatir akan terfitnah Dajjal, namun tatkala ia mendatanginya, tiba-tiba pikirannya berubah dan ia menjadi pengikut Dajjal yang setia. Rasulullah saw juga mengabarkan bahwa orang-orang madina yang lemah iman dan penduduknya yang fasik akan banyak yang menjadi pendukungnya. Jika seorang yang merasa imannya kuat ternyata akan tergulung oleh kedahsyatan fitnah Dajjal, lalu bagaimana dengan mereka yang jelas-jelas lemah imannya, lemah rasa tawakkalnya, banyak maksiatnya dan sedikit ketaatannya? Tentunya mereka adalah sasaran empuk bagi fitnah Dajjal.

Orang yang mengalami fitnah Dajjal adalah generasi akhir zaman yang akan merasakan fitnah akhir zaman lainnya. Jika mereka mendapat umur yang panjang, besar kemungkinan mereka akan mengalami apa yang dijanjikan oleh Rasulullah saw. Bisa jadi mereka akan mengalami terbitnya matahari dari barat, munculnya Yajuj dan Majuj, munculnya binatang melata, perang akhir zaman yang akan menghancurkan segalanya, dan berbagai fitnah lain yang boleh jadi akan menyeret kebanyakan manusia ke dalam kekufuran karena beratnya beban hidup saat itu. Mengapa kami katakan demikian? Karena semua tanda-tanda kiamat besar tersebut terjadi secara beriring-iringan, jarak antara satu dengan lainnya berdekatan, bahkan Rasulullah saw menggambarkan seperti marjan yang terikat dengan sebuah kawat, yang jika kawat itu putus maka biji-biji marjan itu akan jatuh secara berurutan. Wallahu a’alam bish shawab.

Orang yang mengikuti seruan Dajjal akan terhapus seluruh amalnya. Inilah yang paling kita khawatirkan. Sesungguhnya seseorang yang mendatangi dukun, tukang ramal maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Orang yang mendatangi paranormal, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari. Namun orang yang mendatangi Dajjal dan beriman kepadanya, maka seluruh amalnya akan terhapus dan ia menjadi kafir meski dirinya masih mengaku beragama islam.

Dajjal akan mendakwahkan agama Allah. Ia akan datang atas nama islam dan Rasulullah saw, ia akan banyak berbicara tentang kebajikan dan kasih sayang. Dajjal akan datang dengan membawa agama cinta kasih, ia muncul dan menyanjung dirinya dengan mengatakan bahwa apa yang dibawanya adalah kebajikan. Dengan keadaan seperti itu, maka akan banyak sekali umat manusia yang tertipu. Simbol-simbol yang diusung oleh Dajjal pertama kali adalah perbaikan dan kemanusiaan. Maka orang-orang yang terkena fitnah syubhat, paham sekuler dan liberal akan mendukung gerakan Dajjal, bergabung dan masuk dalam barisannya. Padahal, sebagaimana yang sudah kita ketahui, bahwa orang-orang liberal dan sekuler adalah yang paling gencar dan sangat aktif dalam mengkampanyekan misi-misi mereka. Banyak umat islam yang tertipu dengan apa yang mereka sampaikan hanya karena kelihaian mereka berbicara. Orang-orang seperti itulah yang akan menjadi utusan-utusan Dajjal.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak lagi ada kesamaran (ketidakjelasan) tentang Dajjal. Sesungguhnya, ia akan muncul dari arah timur. Kemudian ia menyeru atas namaku, sehingga ia diikuti banyak orang. Kemudian ia memerangi mereka dan dapat menguasai mereka. Dan ia masih berbuat seperti itu hingga ia datang ke Kufah. Lalu ia menampakkan agama Allah, dan mengamalkannya sehingga diikuti dan disenangi karena itu …” (HR. Thabrani)

Inilah yang sebenarnya tidak banyak dipahami oleh kebanyakan orang awam, dikarenakan memiliki persepsi dan gambaran yang salah tentang hakikat Dajjal. Maka kajian tentang Dajjal menjadi sangat urgen bagi setiap muslim, mengingat besarnya bahaya dan fitnah Dajjal. Semoga dengan hal ini banyak umat islam dan manusia secara umum yang sadar akan besarnya bahaya fitnah Dajjal. Setidaknya, perintah Rasulullah saw agar umat beliau membaca doa minta perlindungan dari fitnah Dajjal setiap shalat memiliki makna istimewa bagi kita. Bisa jadi, kitalah umat yang ditakdirkan berjumpa dengan Dajjal.