Bersikap hati-hati dan berusaha yang disertai dengan tawakal kepada Allah merupakan salah satu jalan menuju kebahagiaan. Rasulullah saw sendiri waktu turun ke medan perang, masih harus mengenakan baju perang. Padahal kita tahu bahwa Rasulullah saw adalah yang terbaik diantara orang-orang yang bertawakal. Salah seorang sahabat bertanya kepadanya “apakah saya harus mengikat unta saya, wahai Rasulullah, atau harus bertawakal saja?” Rasulullah saw menjawab “ikatlah untamu lalu bertawakallah”

Berusaha dan bertawakal kepada Allah adalah prinsip tauhid. Meninggalkan usaha dan hanya bertawakal kepada Allah adalah sebuah kekeliruan dalam memahami syariat. Sedangkan berusaha saja tanpa tawakal kepada Allah adalah kekeliruan dalam memahami tauhid.

Ibnul Jauzi punya cerita berkaitan dengan masalah tawakal ini, yakni tentang seorang laki-laki yang sedang memotong kukunya. Karena tidak hati-hati ia memotong jarinya dan mati.

Suatu ketika ada seseorang masuk ke kandang keledai sardan. Karena tidak hati-hati maka ia diseruduk oleh keledai itu, dan langsung meninggal.

Diceritakan pula bahwa Thaha Husein, penulis terkenal itu, selalu berkata kepada supirnya “jangan mengendarai mobil ini terlalu cepat, agar lebih cepat sampai ke tempat tujuan”. Ini merupakan terjemahan praktis dari sebuah peribahasa yang berbunyi “terburu-buru itu justru sering menciptakan kelambanan”

Seorang penyair mengatakan,

“orang yang berhati-hati akan berhasil mendapatkan keinginannya,
Sedangkan orang yang terburu-buru mungkin akan jatuh tergelincir”

Berhati-hati sama sekali tidak berarti menentang qadar. Berhati-hati justru merupakan bagian dari qadar itu, dan bahkan inti dari qadar tersebut.

“berlaku lemah lembutlah” (QS. Al-Kahfi : 19)

“dan, Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan” (QS. An-Nahl : 81)