Allah menciptakan dunia dan seisinya untuk memenuhi kebutuhan fisik atau jasmani manusia tetapi untuk memenuhi kebutuhan batin atau rohani kita membutuhkan kedekatan kepada Allah dimana dengan dekatnya seorang hamba kepada Rabbnya maka sudah selayaknya hamba tersebut dapat mengamalkan asma’ul husna dalam kehidupan sehari-harinya.

Di dalam masyarakat kita sering ada istilah ‘coba liat itu anaknya si fulan dia sekarang sudah jadi orang, hidupnya enak’. Sudah menjadi hal yang wajar bahwa seseorang baru dikatakan jadi ‘orang’ apabila dia sudah sukses, kaya raya, dan hidupnya mewah . Padahal jika merujuk pada surat Al-Kahfi ayat 46 yang berbunyi

“harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”

Melihat surat di atas maka manusia terbagi menjadi 4 bagian yaitu :

Manusia yang memburu dunia saja dan meninggalkan kebutuhan batinnya

Manusia seperti ini di dalam pandangan tak ubahnya seperti seekor monyet, hal ini sesuai dengan surat Al-Baqarah ayat 65 dan 66

“dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka ‘jadilah kamu kera yang hina’. Maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”

Ayat di atas menceritakan tentang kaum Bani Israil dimana mereka semua adalah seorang yahudi sebelum datangnya islam. Kaum Bani Israil ini diberi waktu dalam 1 minggu, 6 hari untuk mencari nafkah dan sehari untuk beribadah di mana mayoritas Bani Israil ini adalah nelayan. Pada awalnya semua beribadah pada hari sabtu tapi ketika hari sabtu tiba ada seorang yang tidak beribadah tetapi dia malah pergi mencari ikan dan memang hasil tangkapan yang dia dapat berlipat ganda dari hari-hari yang lain, berita ini lalu tersebar maka mulai banyak dari kaum Bani Israil ini yang meninggalkan ibadahnya. Lalu Allah menjadikan seluruh kaum ini menjadi kera karena keingkaran mereka.

Karena itulah apabila kita melihat seorang muslim saat adzan berkumandang dia tidak mempedulikan atau apabila diajak bersedekah dia tidak mau walaupun dia mampu maka orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai kera dalam ayat di atas.

Manusia yang memanfaatkan agama untuk memburu kekayaan dan kekuasaan

Manusia yang dimaksudkan disini adalah para ulama yang menggunakan kemampuan dan pengetahuannya tentang islam untuk memburu harta kekayaan dan kekuasaan atau jabatan. Untuk orang seperti ini marilah kita melihat pada surat Al-A’raf ayat 175 dan 176 yang berbunyi

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”

Untuk orang yang seperti ini Allah mengibaratkan mereka seperti binatang berkaki empat yang biasa kita sebut anjing. Termasuk para ulama yang mengetahui bahwa suatu barang itu tidak sepenuhnya halal tetapi karena uang yang dijanjikan apabila dia menghalalkan barang tersebut maka dengan segera ia memberikan stempel halal atau menjamin kehalalan barang tersebut. Seperti yang terdapat pada surat Al-Baqarah 174 yang berbunyi

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api , dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”

Dan juga Al-Baqarah 159

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati”

Bisa kita lihat dari 2 ayat diatas bahwa Allah sudah menegaskan bahwa apabila seorang ulama atau pemuka agama menggunakan pengetahuannya tentang Al-Quran dan Hadist untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan, maka Allah dan seluruh makhluk akan melaknat mereka dan yang paling buruknya Allah tidak akan berbicara dan mensucikan mereka pada hari kiamat nanti, kecuali

“Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah : 160)

Naaah ternyata Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang makanya apabila orang-orang seperti itu segera bertobat dan memperbaiki kesalahannya lalu memberitahukan hal yang sesungguhnya maka surga Allah akan menanti mereka.

Manusia yang hanya memenuhi kebutuhan jiwa atau rohaninya saja (beribadah) tetapi tidak memenuhi kebutuhan fisik atau jasmaninya

Untuk orang seperti ini dalam sebuah hadist shahih dikatakan bahwa mereka bukanlah umat Nabi Muhammad saw karena Rasulullah saw juga makan dan minum tidak berpuasa terus menerus, tidur, menikah dan bekerja. Jadi ambillah kebutuhan duniamu untuk memenuhi kebutuhan akhirat, tapi ingat jangan berlebih-lebihan.

Manusia yang memanfaatkan dirinya dan kekayaannya untuk mengamalkan Al-Qur’an

Inilah tipe manusia yang paling disukai Allah karena dia memanfaatkan dirinya, kekayaannya dan kekuasaannya (jika memang kaya dan berkuasa) untuk menolong sesama tanpa pamrih, tanpa membedakan status sosial. Tapi jika orang tersebut tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan dia akan menggunakan dirinya, tenaganya, pengetahuannya untuk menolong dan tentu saja tanpa mengharapkan imbalan apapun. Untuk tipe orang yang seperti ini Al-Qur’an secara detail telah menjelaskan cirri-cirinya dalam Al-Hujarat ayat 15

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”

Dan imbalan yang Allah berikan kepada mereka ada dalam At-Taubah ayat 111

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”

Tuh, gak sia-sia kan melakukan amal shalih, soalnya ada surga yang dijanjikan Allah untuk kita.

Gak usah minder dan takut kalau mau berpuasa karena khawatir bau mulut kita akan membuat orang-orang disekitar pada lari ketakutan! Karena, bau mulut kita itu dibeli Allah dengan surga-Nya.

Gak usah takut kekurangan uang kalau mau bersedekah dan berinfak karena dengan sedekah Allah akan membukakan jalan keluar bagi masalah kita lagipula uang yang kita infakkan jumlahnya akan dikali lipatkan Allah sesuai dengan kadar keikhlasannya, lumayan kan buat tabungan kita di akhirat.

Nah, mudah-mudahan kita semua bisa menjadi tipe manusia yang ke-4 tadi. Amin