Banyak orang yang saat dia mengalami kesusahan cenderung akan menyalahkan Allah padahal seandainya mereka sedikit berpikir bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan mereka 90% terjadi karena kesalahan mereka sendiri yang 10%nya barulah faktor X.

Allah memberikan kita pilihan dan kita sendirilah yang memutuskan mana pilihan yang terbaik buat kita tapi kenyataan yang ada, mayoritas orang apabila salah mengambil pilihan mereka akan menghardik, memaki, menyumpah dan meratapi nasib.

Suatu contoh, saat kita menyukai seseorang maka segala sesuatu tentang orang itu akan terlihat sempurna di mata kita walaupun yang dia lakukan salah tapi tetap saja kita membenarkan segala tindakannya. Akan tetapi saat kita sudah tidak bisa bersama orang tersebut (putusan), kebanyakan orang akan cenderung menyalahkan Allah dengan berbagai macam dalih misalnya :

“Ya Allah, kalo kami bukan jodoh kenapa kami dipertemukan?”
“Ya Allah, kenapa kami dipisahkan padahal dia itulah yang terbaik buat aku!!!”
“Allah benar-benar gak adil, kenapa kami harus dipisahkan!!!”
“Dimana Allah di saat kubutuhkan!!!”

Dan lain sebagainya, yang biasanya kata-kata diatas diucapkan sambil beruraian airmata hiks hiks hiks…

Bahkan ada yang berusaha bunuh diri saat diputusin pacarnya dan biasanya orang seperti itu pemikirannya agar sang pacar menyesal telah memutuskannya. Pemikiran yang seperti ini salah BESAR karena kalo kita beneran mati mungkin pada awalnya pacar kita akan sedih tapi yakin deh 2 atau 3 bulan kemudian pacar kita itu pasti dah ngegandeng cewek lain. Rugi kan?

Mendingan dari sekarang kita ubah cara berpikir kita, fokuskan pada sesuatu hal yang jauh lebih penting yaitu memperbaiki diri sendiri dulu siapa tau semua hal buruk yang terjadi pada diri kita itu karena akibat dari sifat buruk kita.

Tau ga? Bahwa sebenarnya setiap rasa sakit yang kita alami walaupun cuma tertusuk duri aja ternyata Allah menghapuskan dosa kita tapi tentu aja dosa yang kecil, kalo dosa yang besar mah tobat baru diampuni.

Dan setiap orang yang pernah menyakiti kita ntar di akhirat amal kebaikannya akan berpindah kepada kita sesuai dengan kadar kezhalimannya tapi kalo orang itu tidak punya amal kebajikan maka dosa-dosa kita akan berpindah kepadanya tapi tidak seluruh dosa lho, cuma sesuai sama kadar kezhalimannya. Jadi kalo ada yang pernah menyakiti hati seseorang mending buruan minta maaf deh daripada ntar pahala yang kita kumpulin, melayang ke orang lain.

Meratapi nasib atau mengeluh, hal itu sering banget kita lakuin mau panas atau hujan tetap aja ngeluh padahal Allah menciptakan segala sesuatunya itu gak ada yang sia-sia lho harusnya kita syukurin dan kita jangan sampai berburuk sangka kepada Allah karena Allah itu mengikuti prasangka hamba-Nya.

Saya sering mendengar ada seseorang yang memaki-maki Tuhannya, mereka bilang “kalo Allah itu ada kenapa aku menderita! Pokoknya aku gak mau shalat lagi” atau “kenapa orang lain bisa hidup bahagia sedangkan aku tidak!!! Allah benar-benar gak adil! Pokoknya aku gak mau shalat sampai keinginanku dikabulin”. Coba deh kita renungin emangnya Allah butuh shalat kita? Apa Allah butuh perbuatan baik kita? Jawabannya jelas sekali TIDAK. Karena Allah gak butuh apa-apa dari kita justru sebaliknya kitalah yang membutuhkan-Nya, kalo kita gak shalat apa Allah merasa rugi? TIDAK, kenapa karena masih banyak hamba-hamba-Nya yang bertakwa diluar sana yang yakin akan pertolongannya, yang tetap istiqomah di jalan-Nya bukan hamba yang nggak tau diri dan yang merasa kalau hanya dirinyalah orang yang paling menderita sedunia.

Contoh gampangnya, ada karyawan yang jarang pergi bekerja tetapi minta kenaikan gaji kira-kira ntu karyawan dapat keinginannya ga? Begitu juga Allah kalo shalat aja senin kamis atau shalat kalau ada maunya aja bagaimana doanya bisa dikabulin?

Shalat kalau ada waktu luang saja dan sedekah kalau ada sisa uang saja, mau nggak kalau Allah berkata “ntar ya masuk surganya kalau saya ada waktu luang dan kalau ada sisa di surga”? nggak mau kan?

Jadi dibuang deh hobi meratapi nasib atau yang hobi bunuh diri mendingan ganti hobi aja jadi yang lebih positif.