Adalah sebuah awal yang indah ketika seorang istri berteu dengan suaminya, atau seorang suami dengan istrinya. Senyuman itu adalah sebuah pernyataan awal untuk sebuah kesepakatan dan harmoni “senyummu di depan saudaramu adalah sedekah”. Rasulullah saw sendiri adalah seorang banyak tertawa dan tersenyum.

Sedangkan mengenai pertemuan itu harus diawali dengan salam bisa kita temukan dalam firman Allah :

“Hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik” (QS. An-Nur : 61)

Sedangkan hukum menjawab salam adalah :

“Apabila kamu dihormati dengan sutu penghormatan, maka balaslah dengan penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)” (QS. An-Nisa : 86)

Dan sebuah awal yang baik pula bila saat masuk rumah berdoa :

“Allahumma inni asaluka khairal maulaji wa khairal makhraji bismillahi wa lajna wa bismillahi kharajna wa’alallahi rabbana tawakkalna”

Ya Allah aku memohon pada-Mu kebaikan tepat masuk dan kebaikan tempat keluar. Dengan nama Allah kami masuk dan dengan nama Allah kami keluar. Dan kepada Allah-lah kami bertawakal

Cara berbicara yang lembut baik dari istri maupun dari suami adalah alasan terciptanya kebahagiaan rumah tangga.

“Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku : ‘hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik’ (benar)”. (QS. Al-Isra : 53)

Seorang suami dan istri itu hendaknya masing-masing menarik semua ucapan yang jelek dan melukai perasaan serta penuh caci maki. Suami dan istri hendaknya mengungkapkan sisi yang indah penuh pesona dan menutup mata pada sisi yang lemah yang muncul pada masing-masing suami-istri.

Seorang suami yang selalu menghitung kebaikan istrinya dan tidak memperhatikan kekurangannya, akan bahagia dan tenang hatinya. Disebutkan dalam sebuah hadist : “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika dia tidak senang pada satu perilaku, maka masih banyak perilaku lain yang dia senangi”.

Siapa orangnya yang tidak mempan terhadap tebasan pedang kebaikan dari siapa pula orangnya yang pundi-pundi kebaikannya sama sekali tidak ada isinya?

“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu).” (QS. An-Nur : 21)

Kebanyakan permasalahan rumah tangga terjadi dan muncul dari masalah-masalah sepele. Berpuluh-puluh masalah yang berujung pada perpisahan antara suami istri, semuanya muncul dan berawal dari masalah-masalah yang sepele. Salah satunya adalah keadaan rumah yang tidak rapi dan makanan yang tidak dihidangkan tepadt pada waktunya. Atau sebab lain, karena istri kecapekan sehingga tidak ingin suaminya terlalu banyak menerima tamu. Dengan mendafatar semua permasalahan itu dan, kalau perlu permasalahan lain – yang disertai dengan alternatif penyelesaiannya – maka akan menghentikan kehancuran rumah tangga dan resiko anak-anak yang harus kehilangan salah satu orang tuanya.

Bagaimanapun kita harus menyadari kenyataan, keadaan dan kekurangan kita sendiri. Kita harus keluar dari dunia imajinasi dan ideal-ideal yang semu, yang tak mungkin dicapai. Kehidupan seperti itu hanya bisa enajdi kenyataan bagi para ulul azmi, yang di dunia ini hanya beberapa gelintir orang saja.

Kita adalah manusia yang bisa marah, bisa bersikap keras, bisa lemah, dan bisa salah. Yang harus kita lakukan adalah menanamkan konsep relativitas di dalam mencari keseimbangan hubungan suami-istri, agar bisa menjalani kehidupan yang singkat ini dengan damai.

Kebaikan hati Ahmad ibn Hanbal serta kepekaannya menjadi seorang mitra ada baiknya bila kita kemukakan di sini. Katanya, setelah meninggal istrinya, Ummu Abdillah, dia telah menajdi teman baiknya selama 40 tahun tanpa pernah berselisih walau satu kata sekalipun.

Jika si istri sedang marah, maka suami harus diam. Demikian sebaliknya, sehingga api yang bergolak itu padam dengan sendirinya, emosi di hati itu dingin dengan sendirinya, dan gejolak di dalam hati itu akan mereda.

Dalam bukunya Syahdul Khathir, Ibnul Jawzi mengatakan, “Jika kamu melihat sahabatmu marah dan mulai bicara tidak jelas, maka apa yang dikatakannya jangan pernah diambil hati, dan jangan pernah memberi sanksi. Saat itu, ia sedang tidak waras, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bersabarlah sebentar, dan jangan terpancing. Saat itu dia sedang dikalahkan setan, emosinya sedang tidak terkendalikan, dan pikirannya sedang terkungkung. Jika anda mengambil hati atau membalasnya dengan cara yang sama, maka anda seperti menghadapi yang tidak waras. Atau, orang yang sadar menghardik orang yang mabuk, karena itu berarti dosa bagi anda. Tataplah dengan pandangan penuh kasih, pahamilah sebagai qadarnya bahwa saat itu ia harus marah, dan berusahalah untuk bersandiwara dengannya.

Perlu anda ketahui, bahwa jika nanti dia sadar, maka ia akan menyesali apa yang telah terjadi dan mengakui betapa faedah bersabar itu. Paling tidak anda bisa menyelamatkan orang itu dari tindakan marahnya dan membawa kepada ketenangan.

Kesadaran seperti ini harus benar-benar dipahami oleh seorang anak ketika orang tuanya sedang marah, atau seorang istri ketika suaminya sedang marah. Biarkanlah dia marah sampai berhenti dengan sendirinya, dan jangan meresponnya. Setelah itu dia akan menyesal dan minta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Sebaliknya, jika ucapan dan perbuatannya itu dilawan dengan cara yang sama, maka akan muncul cara yang sama, maka akan muncul permusuhan yang semakin berlarut. Tapi balaslah dengan kebaikan atas apa yang telah dilakukannya pada waktu tidak waras itu.

Sayangnya, kesadaran semacam ini jarang dilakukan. Umumnya, ketika seseorang melihat orang lain marah-marah, dia akan melayaninya. Padahal, tindakan seperti itu sama sekali bukan tindakan yang bijaksana. Tapi hal ini hanya bisa dicerna oleh orang-orang yang tahu.