You are currently browsing the tag archive for the ‘kesedihan’ tag.

Ibn Rajab pernah bercerita tentang seorang ahli ibadah yang sedang berada di Makkah. Dia kehabisan bekal dan kelaparan. Tubuhnya limbung. Ketika sedang berjalan di salah satu gang di kota Makkah dia mendapatkan sebuah kalung yang sangat mahal harganya. Diambilnya kalung itu dan dimasukkannya ke dalam saku, lalu pergi ke Masjidil Haram. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengumumkan bahwa dirinya telah kehilangan kalung. Orang yang kehilangan kalung itu menjelaskan bagaimana bentuk kalung yang hilang itu. Ternyata semua keterangan yang dia sampaikan mengacu kepada kalung yang ditemukan orang tersebut. “Saya berikan kalung itu kepadanya namun dengan syarat memberikan imbalan kepada saya. Kalung itupun diambilnya, dan pergi begitu saja tanpa ucapan terima kasih, atau dengan memberikan apa saja. Ya Allah, aku biarkan semua itu untuk-Mu, maka gantilah untukku sesuatu yang lebih baik darinya”. Kata orang yang menemukan kalung itu.

Kemudian dia pergi ke laut, dan menumpang sebuah perahu Baca entri selengkapnya »

Iklan

Artikel ini merupakan kiriman dari teman saya Metalia Freksi Budi dari Jogjakarta

Ketika Kita meminta, “Ya Allah ambillah kesombonganku dariku.”
Allah berkata, “Tidak, bukan Aku yang mengambil tapi kau yang harus menyerahkannya.”

Ketika Kita meminta, “Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.”
Allah berkata, “Tidak, jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”

Ketika Kita meminta, “Ya Allah beri aku kesabaran.”
Allah berkata, “Tidak, kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”

Ketika Kita meminta, “Ya Allah beri aku kebahagiaan.”
Allah berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu.”

Ketika Kita meminta “Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan.”
Allah berkata, “Tidak, penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi Dan mendekatkanmu pada-Ku.”

Ketika Kita meminta, “Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.”
Allah berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”

Ketika Kita meminta, “Ya Allah Bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku.
Allah berkata “Akhirnya engkau mengerti”

Kadang kala Kita berpikir bahwa Allah tidak adil, Kita telah susah payah memanjatkan DOA, meminta Dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak Ada hasilnya.

Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah Kita kirimkan tak Ada jawaban sama sekali, sementara orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.

Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik Dan sesuai, justru berakhir dengan penolakkan Dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.

Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun justru kebutuhan yang terus meningkat.

Kadang permintaan Kita adalah yang terbaik karena menganggap Kita mengetahui dengan pasti apa yang dibutuhkan TETAPI Allah jauh lebih mengetahui keadaan Kita melebihi dari apa yang Kita pikirkan karena Dia adalah Sang Pencipta Dan Dia tahu dengan pasti apa akibat bila permintaan Kita dikabulkan Nya sedangkan diri Kita masih belum siap menerimanya.
Kita akan semakin jatuh, semakin jauh dari pada Nya Dan akan membanggakan kemampuan diri sendiri Dan tidak berharap sepenuhnya kepada Nya.

Berbahagialah bila doa2 anda belum dijawab karena Allah akan menuntun Dan menguatkan anda sehingga pada saat anda diberikan oleh Nya bibir Dan mulut anda tidak akan berhenti bersyukur Dan memuji kebesaran nama Nya……

Mungkin tidak sekarang tapi Allah tahu kapan mengabulkan doa2 mu karena Allah tahu yang terbaik yang Kita tidak tahu.

Shalat berfungsi untuk membersihkan, menguatkan, melapangkan, menyegarkan dan memberikan kenikmatan pada hati. Pada waktu shalat, terdapat hubungan langsung antara hati dan ruh di satu sisi, dan Allah di sisi lainnya. Ada kedekatan langsung kepada-Nya. Ada kenikmatan dalam berdzikir kepada-Nya. Ada rasa bangga dalam bermunajat kepada-Nya. Ada maksimalisasi penggunaan anggota badan, kekuatan dan perangkatnya untuk beribadah kepada-Nya. Ada pembagian tugas yang pas untuk masing-masing anggota badan. Ada waktu sejenak untuk melepaskan diri dari hubungan dengan sesama manusia. Ada keterikatan kekuatan hati dan tubuhnya kepada Rabb. Dan ada waktu untuk melepaskan diri dari musuh-musuhnya, sehingga shalat menjadi obat yang paling manjur dan makanan yang hanya bisa dikonsumsi oleh hati yang suci. Sebaliknya, hati yang sakit tak ubahnya badan, hanya bisa menerima hal-hal materi yang bisa disantap saja.

Shalat adalah jalan terbesar untuk memperoleh kemaslahatan dunia dan akhirat, mencegah dari tindakan dosa, menghalangi dari tumbuhnya penyakit hati, mengusir penyakit dan sekaligus mencegah kerusakan dunia dan akhirat. Shalat mencegah manusia untuk melakukan perbuatan dosa dan menjadi obat bagi penyakit-penyakit hati. Dia akan mengusir penyakit dari badan, menjadi penerang bagi hati, membuat wajah ceria lebih bersinar, membuat anggota tubuh dan ruh segar serta penuh vitalitas. Shalat akan banyak mendatangkan rezeki, mencegah kezhaliman, menolong orang-orang yang dizhalimi, mencegah gempurang syahwat, mampu menjaga nikmat, mengusir bencana dan mendapatkan rezeki. Shalat akan mendatangkan rahmat dan menyibakkan mendung kesuntukan.

Jangan bersedih ! Karena rasa sakit dapat sirna, cobaan akan pergi, dosa akan terampuni, hutang akan terbayar, narapidana akan dibebaskan, orang yang hilang akan kembali, orang yang melakukan kemaksiatana akan bertaubat, dan orang yang fakir akan kaya.

Jangan bersedih ! Tidakkah anda memperhatikan bagaimana awan hitam itu tersingkap terang, malam yang demikian pekat menjadi terang benderang, angin yang sedemikian kencang itu mendadak tenang, dan angin puyuh itu mendadak berhenti ? Semua itu menandakan bahwa beban hidup anda pun pasti akan berakhir pada kehidupan yang aman, tentram dan menjanjikan masa depan yang gemilang.

Jangan bersedih ! Karena teriknya sinar matahari akan diteduhkan oleh bayangan, rasa haus yang mencekik di siang bolong akan disegarkan oleh air yang dingin dan rasa lapar yang melilit akan dikenyangkan oleh sepotong roti yang hangat. Bukankah keletihan karena begadang malam akan berujung pada tidur yag nyenyak, dan perasaan sakit akan tergantikan oleh kesehatan ? Karena itu, bersabar dan tunggulah barang sejenak.

Jangan bersedih, meskipun para dokter sudah kehabisan cara, kalangan orang bijak tak lagi mempan nasehatnya, para ulama tidak lagi berbuat apa-apa, para penyair hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, dan semua usaha tidak lagi ada yang berguna di hadapan takdir, qadha dan keniscayaan Allah.

Menurut saya, setiap orang, siapapun dia, akan mencari kebahagiaan dan ketenangan. Namun, hanya sedikit yang sampai ke sana dengan tetap berada di bawah sinar petunjuk dan mendapatkan keberuntungan.

Siapapun yang tidak menjadikan Allah selalu berada di depan matanya, maka faedah-faedah yang dia dapatkan akan berubah menjadi kerugian. Kegembiraan yang dia peroleh akan menjelma menjadi kesedihan. Dan, kebaikannya akan berubah menjadi bencana.

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-A’raf : 182)

Jalan berliku dan sulit yang ditempuh oleh banyak orang dengan mengabaikan ketentuan-ketentuan syariat untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebenarnya, akan terasa lebih mudah dan singkat bila mereka mau menempuh jalan syar’i yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). (QS. An-Nisa : 66)

Dengan menempuh jalan yang lurus yang diajarkan oleh Muhammad saw, maka mereka mendapatkan dua kebaikan sekaligus : dunia dan akhirat.

Banyak orang yang kehilangan makna kehidupan di dunia dan di akhirat. Mereka menyangka bahwa dirinya telah melakukan yang terbaik dan telah mendapatkan kebahagiaan. Padahal, mereka gagal mendapatkan yang di sini maupun yang di sana kelak. Mengapa ? Karena mereka berpaling dari jalan yang telah Allah tunjukkan melalui rasul-rasul-Nya, dan diterangkan lewat kitab-kitab-Nya. yang diminta dan dikatakan oleh para rasul dan kitab-kitab Allah itu benar adanya.

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’am : 115)

Ibnul Qayyim menyebutkan beberapa hal yang membuat dada menjadi lapang dan damai. Dari semua itu yang paling penting adalah tauhid. Dengan kebersihan dan kesuciannya tauhid itu bisa menjadi lapang, jauh lebih luas dari dunia dan isinya.

Allah berfirman,

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha : 124)

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al-An’am : 125)

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Az-Zumar : 22)

Allah mengancam musuh-musuh-Nya dengan Baca entri selengkapnya »

Ada seseorang yang mengatakan,

“Kumpulkanlah uangmu karena kemuliaan itu ada dalam harta

dan engkau bisa melakukan apa saja tanpa paman dan bibi”

Falsafah yang mendorong untuk menghambur-hamburkan harta, membelanjakannya pada tempat yang tidak benar, atau justru tidak ada niatan untuk mengumpulkan harta sama sekali, merupakan falsafah hidup yang salah. Ini semua berasal dari falsafah hidup para pendeta hindu atau dari orang-orang sufi Baca entri selengkapnya »

Rasa suka yang berlebihan itu banyak sebabnya. Diantaranya :

  • Hati yang tak terisi cinta, rasa syukur, dzikir, dan ibadah kepada Allah
  • Membiarkan mata jelalatan. Mengumbar mata adalah jalan yang menghantarkan pada kesedihan dan keresahan.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nur : 30)

Rasulullah juga bersabda, “pandangan (mata) itu adalah satu dari sekian banyak anak panah iblis”

  • Meremehkan ibadah, dzikir, doa, dan shalat nafilah

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ankabut : 45)

Adapun Obatnya Baca entri selengkapnya »

Ketika kegelapan menjadi semakin pekat, ketika petir menyambar-nyambar, dan angin bertiup kencang, maka fitrah manusia pun tergugah :

“datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atannya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS. Yunus : 22)

Ayat ini tidak berlaku bagi seorang muslim Baca entri selengkapnya »

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi Rasulullah bersabda “Barangsiapa tidur dengan tenang di tempat tidurnya, sehat badannya, memiliki jatah makanan untuk hari ini, maka seakan-akan dia telah mendapatkan dunia dan semua kenikmatannya”

Maksud hadist di atas adalah bahwa jika seseorang telah mendapatkan makanan yang cukup dan tempat berlindung yang aman, maka dia telah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dan kebaikan yang terindah. Ini terjadi pada kebanyakan orang. Namun mereka tidak pernah menyebutkannya, melihatnya dan merasakannya sebagai kebahagiaan dan kebaikan.

Allah berfirman kepada rasul-Nya,

“Dan, telah aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu” (QS. Al-Maidah : 3)

Nikmat apa yang diberikan kepada Rasulullah saw secara sempurna ? Apakah nikmat itu berupa materi ? Apakah itu makanan yang melimpah ? Apakah istana-istana, emas dan perak ? Tentu tidak. Rasulullah saw tidak memiliki semua itu.

Kenyataannya Rasulullah saw yang agung ini masih tidur di sebuah kamar yang beralaskan tanah dan beratapkan pelepah kurma. Dia mengikat perutnya dengan dua buah batu untuk menahan rasa laparnya, dan hanya beralaskan tikar yang terbuat dari pelepah kurma yang membekas di belikatnya. Dia menggadaikan pakaian perangnya kepada seorang yahudi dengan harga 30 sha’ gandum. Dia berkeliling selama 3 hari untuk mendapatkan kurma yang paling jelek untuk dimakan dan untuk sekedar menutup rasa lapar, namun tidak mendapatkannya.

Kau meninggal, dan baju perangmu digadaikan dengan gandum

dan barang (gadaian)mu tetap tak tertebus hingga ajal menjelang

Dalam dirimu ada makna keyatiman yang menghiasi,

dan engkau pun bergelar bapak orang-orang yatim

“dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas” (QS. Ad-Duha : 4-5)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak” (QS. Al-Kautsar : 1)

Kebahagiaan hanya bisa tercapai dan dinikmati oleh orang yang mengikuti satu sisi : dari shirathal mustaqim (jalan yang lurus). Itulah peninggalan Rasulullah saw untuk kita, karena sisi yang satunya lagi berada di surga.

“Dan pasti Kami akan tunjukkan mereka kepada jalan yang lurus” ( QS. An-Nisa : 68 )

Kebahagiaan orang yang senantiasa berjalan diatas shirathal mustaqim adalah dia selalu merasa tenang dengan akhir yang baik dari setiap permasalahan yang dihadapinya. Dia juga merasa yakin bahwa tempat kembalinya adalah tempat yang baik. Ia pun percaya sepenuhnya terhadap janji Rabb-nya, rela dengan qadha’-Nya, dan mengendalikan langkahnya untuk tetap berada di atas jalan ini.

Dia sadar bahwa ada seseorang yang menunjukkan jalan ini. Siapakah ? Baca entri selengkapnya »