You are currently browsing the tag archive for the ‘la-tahzan’ tag.

Tidak ada yang lebih sulit di dunia ini dibandingkan dengan sabar. Sabar di sini bisa berarti sabar terhadap yang dicintai, dan sabar terhadap yang tidak disukai. Sabar diperlukan dalam melakukan sesuatu yang sangat panjang masanya, atau ketika terjebak dalam putus asa karena sudah buntu. Untuk menjalani masa yang panjang itu dibutuhkan bekal yang cukup, agar bisa menyelesaikan perjalanan itu sampai tujuan. Dan, bekal itu sendiri bermacam-macam, diantaranya Baca entri selengkapnya »

Iklan

Orang yang tidak pernah memuji Allah atas nikmat air dingin yang bersih dan segar itu, maka ia akan lupa kepada-Nya jika mendapatkan istana yang indah, kendaraan yang mewah, dan kebun-kebun yang penuh buah-buahan yang ranum.

Orang yang tidak pernah bersyukur atas sepotong roti yang hangat, tidak akan pernah bisa mensyukuri hidangan yang lezat dan menu yang nikmat. Orang yang tidak pernah bersyukur dan bahkan kufur, maka ia tidak akan pernah bisa membedakan antara yang sedikit dan banyak. Tapi ironisnya, tak jarang orang-orang seperti itu yang pernah berjanji kepada Allah bahwa ketika nanti Allah menurunkan nikmat – nikmat-Nya, maka mereka akan bersyukur, memberi dan bersedekah.

Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah Baca entri selengkapnya »

Adalah sebuah awal yang indah ketika seorang istri berteu dengan suaminya, atau seorang suami dengan istrinya. Senyuman itu adalah sebuah pernyataan awal untuk sebuah kesepakatan dan harmoni “senyummu di depan saudaramu adalah sedekah”. Rasulullah saw sendiri adalah seorang banyak tertawa dan tersenyum.

Sedangkan mengenai pertemuan itu harus diawali dengan salam bisa kita temukan dalam firman Allah :

“Hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik” (QS. An-Nur : 61)

Sedangkan hukum menjawab salam adalah Baca entri selengkapnya »

Hal-hal berikut ini akan lahir dari kedurhakaan dan kelalaian untuk berdzikir kepada Allah, seperti tanaman yang ditumbuhkan karena air dan kebakaran yang berasal dari api : hidayah menipis, cara pandang tidak benar, kebenaran tertutup, hati rusak, dzikir melemah, waktu terbuang sia-sia, hati jauh dari Allah, hubungan antara hamba dengan Rabb-nya tidak akrab, doa tidak didengar, hati mengeras, berkah pada rezeki dan usia dihapuskan, kesulitan mendapatkan ilmu, adanya kehinaan, penghinaan oleh musuh, dada menjadi sesak, ujian dengan teman-teman yang bermoral bejat, merusak hati, kegundahan yang tak pernah berhenti, kehidupan yang sengsara, dan perasaan yang perih. Sedangkan hal-hal yang merupakan kebalikan dari semua itu terlahir dari ketaatan.

Sedangkan dampak dari istighfar dalam mengusir keresahan, kegundahan, dan kesempitan telah sama-sama diketahui oleh para ahli agama dan orang-orang pandai dalam setiap umat. Kedurhakaan dan kerusakan akan menyebabkan keresahan, kegundahan, rasa takut, rasa sedih, kesesakan di dalam dada, serta berbagai penyakit hati lainnya.

Setelah melakukan kedurhakaan dan jiwa mereka sudah bosan dengan kedurhakaan itu, maka mereka akan kembali melakukan perbuatan dosa sebagai pelampiasan untuk menghilangkan kesempitan, keresahan dan kegundahan yang ada di dalam dada mereka. Seorang tokoh kaum fasiq mengatakan,

“Satu gelas yang kuminum dengan lezat, yang satu lagi kupakai untuk bertobat”

Menghapuskan pikiran di dalam jiwa dengan melakukan kedurhakaan yang telah menyebabkan beban pikiran sebelumnya adalah dampak yang ditimbulkan dari dosa-dosa dan maksiat yang ada di dalam hati. Karenanya, cara paling ampuh untuk mengurangi beban pikiran itu hanyalah taubat dan istighfar.

Ibn Rajab pernah bercerita tentang seorang ahli ibadah yang sedang berada di Makkah. Dia kehabisan bekal dan kelaparan. Tubuhnya limbung. Ketika sedang berjalan di salah satu gang di kota Makkah dia mendapatkan sebuah kalung yang sangat mahal harganya. Diambilnya kalung itu dan dimasukkannya ke dalam saku, lalu pergi ke Masjidil Haram. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengumumkan bahwa dirinya telah kehilangan kalung. Orang yang kehilangan kalung itu menjelaskan bagaimana bentuk kalung yang hilang itu. Ternyata semua keterangan yang dia sampaikan mengacu kepada kalung yang ditemukan orang tersebut. “Saya berikan kalung itu kepadanya namun dengan syarat memberikan imbalan kepada saya. Kalung itupun diambilnya, dan pergi begitu saja tanpa ucapan terima kasih, atau dengan memberikan apa saja. Ya Allah, aku biarkan semua itu untuk-Mu, maka gantilah untukku sesuatu yang lebih baik darinya”. Kata orang yang menemukan kalung itu.

Kemudian dia pergi ke laut, dan menumpang sebuah perahu Baca entri selengkapnya »

Dalam syariah, ada pahala yang besar dan ganjarang yang agung. Semua ini tampak dalam “SEPULUH PENEBUS DOSA”, misalnya tauhid dan dosa-dosa yang dihapuskan karena tauhid, perbuatan-perbuatan baik yang menghapuskan kesalahan, seperti shalat dari jum’at satu ke jum’at berikutnya, dari umrah yang satu ke umrah yang berikutnya, haji, puasa dan lain sebagainya. Juga dengan penggandaan amal shalih, misalnya kebaikan digandakan dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang tak terhingga. Termasuk diantaranya, bahwa taubat itu memangkas dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Ada juga, bencana-bencana yang menghapuskan dosa, bahwa “kesengsaraan itu tidak menimpa orang mukmin, kecuali Allah menghapuskan kesalahan-kesalahannya”. Selain itu, doa-doa yang dipanjatkan dari kaum muslimin lain di lain tempat. Ada lagi, beban yang diterima pada waktu meninggal nanti. Ada syafaat untuk kaum muslimin pada waktu bershalawat kepada nabi, ada syafaat dari nabi dan ada rahmat dari Allah.

“Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya” (QS. Ibrahim : 34)

“dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin” (QS. Luqman : 20)

Seorang penyair berkata,

“jiwaku yang punya sesuatu akan pergi,
Mengapa aku harus menangisi sesuatu yang harus pergi”

Dunia dengan emas dan peraknya, dengan jabatan dan rumah megahnya, maupun dengan istananya, tidak berhak mengalirkan setetespun air mata kita. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda “dunia ini terkutuk, semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali dzikir kepada Alalh, hal-hal yang bersangkutan dengan dzikir, seorang alim dan seorang pelajar Baca entri selengkapnya »

“Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.” (QS. An-Nur : 11)

Tidak semua orang jenius dan cerdik meniti perjalanan mereka dengan penuh kegigihan, kerena mereka sadar akan kekurangan yang ada pada mereka. Banyak ulama yang lahir dari bekas budak seperti Atha’, Said ibn Jubair, Qatadah, al-Bukhary, at-Tirmidzi, dan Abu Hanifah.

Banyak kalangan cendikiawan (yang karena luasnya pengetahuan mereka sehingga diibaratkan seperti samudra) yang buta Baca entri selengkapnya »

Unsur mudah dan memudahkan dalam syariat islam adalah dua hal yang membuat orang muslim senang.

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (QS. Thaha : 1-2)

“Dan Kami akan memberimu taufik kepada jalan yang mudah” (QS. Al-A’la : 8)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah : 286)

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath-Thalaq : 7)

“dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS. Al-Hajj : 78)

“dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka” (QS. Al-A’raf : 157)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah : 5-6)

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir Baca entri selengkapnya »

Shalat berfungsi untuk membersihkan, menguatkan, melapangkan, menyegarkan dan memberikan kenikmatan pada hati. Pada waktu shalat, terdapat hubungan langsung antara hati dan ruh di satu sisi, dan Allah di sisi lainnya. Ada kedekatan langsung kepada-Nya. Ada kenikmatan dalam berdzikir kepada-Nya. Ada rasa bangga dalam bermunajat kepada-Nya. Ada maksimalisasi penggunaan anggota badan, kekuatan dan perangkatnya untuk beribadah kepada-Nya. Ada pembagian tugas yang pas untuk masing-masing anggota badan. Ada waktu sejenak untuk melepaskan diri dari hubungan dengan sesama manusia. Ada keterikatan kekuatan hati dan tubuhnya kepada Rabb. Dan ada waktu untuk melepaskan diri dari musuh-musuhnya, sehingga shalat menjadi obat yang paling manjur dan makanan yang hanya bisa dikonsumsi oleh hati yang suci. Sebaliknya, hati yang sakit tak ubahnya badan, hanya bisa menerima hal-hal materi yang bisa disantap saja.

Shalat adalah jalan terbesar untuk memperoleh kemaslahatan dunia dan akhirat, mencegah dari tindakan dosa, menghalangi dari tumbuhnya penyakit hati, mengusir penyakit dan sekaligus mencegah kerusakan dunia dan akhirat. Shalat mencegah manusia untuk melakukan perbuatan dosa dan menjadi obat bagi penyakit-penyakit hati. Dia akan mengusir penyakit dari badan, menjadi penerang bagi hati, membuat wajah ceria lebih bersinar, membuat anggota tubuh dan ruh segar serta penuh vitalitas. Shalat akan banyak mendatangkan rezeki, mencegah kezhaliman, menolong orang-orang yang dizhalimi, mencegah gempurang syahwat, mampu menjaga nikmat, mengusir bencana dan mendapatkan rezeki. Shalat akan mendatangkan rahmat dan menyibakkan mendung kesuntukan.

WANITA YANG MAHARNYA PALING MAHAL SEDUNIA <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Jadilah diri anda lebih lembut

Daripada tiupan angin yang sepoi-sepoi

Dan lebih tinggi cita-citanya di dunia daripada bintang di langit

Abu Thalhah mengajukan lamarannya untuk mempersunting Ummu Sulaim binti Mulhan dan menawarkan kepadanya mahar yang besar. Akan tetapi, Abu Thalhah terkejut dan lisannya kelu ketika Ummu Sulaim menolak lamarannya dengan angkuh dan besar diri seraya mengatakan “sungguh tidak pantas bagiku menikah dengan lelaki yang musyrik. Tidakkah engkau tahu, hai Abu Thalhah, bahwa tuhan-tuhan kamu adalah hasil ukiran seorang budak miliki keluarga fulan dan sekiranya kamu bakar dengan api niscaya ia akan terbakar”

Saat itu juga dada Abu Thalhah terasa sangat sempit, lalu ia pergi dengan perasaan yang hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Akan tetapi, cintanya tulus kepada Ummu Sulaim membuatnya datang kembali pada hari berikutnya untuk mengiming-imingi Ummu Sulaim dengan mahar yang jauh lebih besar dan penghidupan yang makmur lagi senang dengan harapan barangkali saja Ummu Sulaim menjadi lembut dan mau menerima lamarannya. Kali ini Ummu Sulaim menjawabnya dengan kesopanan yang tinggi seraya berkata “orang seperti engkau, hai Abu Thalhah tidak pantas untuk ditolak. Sayangnya engkau seorang lelaki yang kafir, sedang aku adalah seorang wanita muslim. Aku tidak boleh menikah denganmu” Baca entri selengkapnya »

Jangan bersedih ! Karena rasa sakit dapat sirna, cobaan akan pergi, dosa akan terampuni, hutang akan terbayar, narapidana akan dibebaskan, orang yang hilang akan kembali, orang yang melakukan kemaksiatana akan bertaubat, dan orang yang fakir akan kaya.

Jangan bersedih ! Tidakkah anda memperhatikan bagaimana awan hitam itu tersingkap terang, malam yang demikian pekat menjadi terang benderang, angin yang sedemikian kencang itu mendadak tenang, dan angin puyuh itu mendadak berhenti ? Semua itu menandakan bahwa beban hidup anda pun pasti akan berakhir pada kehidupan yang aman, tentram dan menjanjikan masa depan yang gemilang.

Jangan bersedih ! Karena teriknya sinar matahari akan diteduhkan oleh bayangan, rasa haus yang mencekik di siang bolong akan disegarkan oleh air yang dingin dan rasa lapar yang melilit akan dikenyangkan oleh sepotong roti yang hangat. Bukankah keletihan karena begadang malam akan berujung pada tidur yag nyenyak, dan perasaan sakit akan tergantikan oleh kesehatan ? Karena itu, bersabar dan tunggulah barang sejenak.

Jangan bersedih, meskipun para dokter sudah kehabisan cara, kalangan orang bijak tak lagi mempan nasehatnya, para ulama tidak lagi berbuat apa-apa, para penyair hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, dan semua usaha tidak lagi ada yang berguna di hadapan takdir, qadha dan keniscayaan Allah.

Apakah anda ingin selalu awet muda, sehat, kaya, dan tidak akan mati ? Jika anda menginginkan itu, maka bukan di dunia tempatnya tapi di akhirat. Kehidupan dunia ini telah Allah ciptakan untuk sebuah penderitaan dan kefanaan. Allah saja menyebutnya sebagai “main-main”, senda gurau, dan penuh tipu daya.

Pernah seorang penyair hidup tanpa uang dan tidak punya apa-apa, padahal dia sedang dalam puncak keemasannya. Dia pernah berusaha mencarinya tapi tak mendapatkannya. Pernah mencoba menikahi seorang gadis tapi gagal. Ketika kemudian usianya sudah lanjut, rambutnya telah beruban, dan tulang-tulangnya telah mulai rapuh, harta itu datang sendiri kepadanya dari mana saja, istri tak susah didapat juga tempat tinggal. Tapi ini justru membuatnya mengeluh,

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir : 37)

“dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami” (QS. Al-Qashash : 39)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabut : 64)

Perumpamaan kehidupan ini adalah seorang musafir yang sedang bernaung di bawah sebatang pohon, yang sejenak kemudian pergi dan meninggalkan pohon itu.

Menurut saya, setiap orang, siapapun dia, akan mencari kebahagiaan dan ketenangan. Namun, hanya sedikit yang sampai ke sana dengan tetap berada di bawah sinar petunjuk dan mendapatkan keberuntungan.

Siapapun yang tidak menjadikan Allah selalu berada di depan matanya, maka faedah-faedah yang dia dapatkan akan berubah menjadi kerugian. Kegembiraan yang dia peroleh akan menjelma menjadi kesedihan. Dan, kebaikannya akan berubah menjadi bencana.

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-A’raf : 182)

Jalan berliku dan sulit yang ditempuh oleh banyak orang dengan mengabaikan ketentuan-ketentuan syariat untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebenarnya, akan terasa lebih mudah dan singkat bila mereka mau menempuh jalan syar’i yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). (QS. An-Nisa : 66)

Dengan menempuh jalan yang lurus yang diajarkan oleh Muhammad saw, maka mereka mendapatkan dua kebaikan sekaligus : dunia dan akhirat.

Banyak orang yang kehilangan makna kehidupan di dunia dan di akhirat. Mereka menyangka bahwa dirinya telah melakukan yang terbaik dan telah mendapatkan kebahagiaan. Padahal, mereka gagal mendapatkan yang di sini maupun yang di sana kelak. Mengapa ? Karena mereka berpaling dari jalan yang telah Allah tunjukkan melalui rasul-rasul-Nya, dan diterangkan lewat kitab-kitab-Nya. yang diminta dan dikatakan oleh para rasul dan kitab-kitab Allah itu benar adanya.

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’am : 115)

Seorang mahasiswa yang berasal dari negara islam belajar di barat, tepatnya di london. Di tempat itu, ia tinggal bersama keluarga inggris yang nonmuslim untuk belajar bahasa. Ia seorang yang taat kepada agamanya, selalu bangun menjelang fajar untuk pergi ke tempat air dan berwudhu. Air disana, karena pengaruh cuaca sangat dingin. Setelah itu dia pergi ke tempat shalatnya, untuk bersujud, ruku’, bertasbih dan bertahmid kepada Rabbnya. Dalam keluarga itu terdapat seorang nenek tua yang selalu memperhatikan apa yang dilakukan oleh mahasiswa ini. Setelah beberapa hari, nenek itu bertanta, “Apa yang engkau lakukan ?”

Mahasiswa itu menjawab, “Agamaku memerintahkanku untuk melakukan ini”

Si nenek itu bertanya lagi, “Mengapa tidak kau tunda waktunya untuk beberapa saat agar anda bisa lebih menikmati tidurmu ?”

Mahasiswa itu menjawab, “Tapi Rabbku tidak akan menerimanya jika aku menangguhkan waktu shalat dari waktu yang telah ditentukan”

Si nenek pun menganggukkan kepalanya dan berkomentar, “Sebuah tekad yang mampu menghancurkan besi baja”

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang, (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS. An-Nur : 37-38)

Kekuatan seperti itu merupakan tekad yang berawal dari keimanan, kekuatan yang berasal dari keyakinan, dan daya yang bersumber dari tauhid. Tekad seperti inilah yang telah memberi inspirasi kepada para penyihir fir’aun. Mereka terketuk untuk beriman kepada Allah Rabb alam semesta ketika mereka terlibat dalam pertarungan antara Musa dan Fir’aun. Mereka berkata kepada Fir’aun,

“Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mu’jizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan Kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja” (QS. Thaha : 72)

Ini merupakan tantangan yang jarang di dengar. Mereka terpanggil untuk menyampaikan risalah ini dengan memanfaatkan momentum itu dan untuk menyampaikan pesan yang benar dan kuat itu kepada seseorang yang kafir dan kejam ini.

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang yang Shiddiqqiin dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka” (QS. Al-Hadid : 19)