You are currently browsing the tag archive for the ‘semangat’ tag.

Dalam syariah, ada pahala yang besar dan ganjarang yang agung. Semua ini tampak dalam “SEPULUH PENEBUS DOSA”, misalnya tauhid dan dosa-dosa yang dihapuskan karena tauhid, perbuatan-perbuatan baik yang menghapuskan kesalahan, seperti shalat dari jum’at satu ke jum’at berikutnya, dari umrah yang satu ke umrah yang berikutnya, haji, puasa dan lain sebagainya. Juga dengan penggandaan amal shalih, misalnya kebaikan digandakan dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang tak terhingga. Termasuk diantaranya, bahwa taubat itu memangkas dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Ada juga, bencana-bencana yang menghapuskan dosa, bahwa “kesengsaraan itu tidak menimpa orang mukmin, kecuali Allah menghapuskan kesalahan-kesalahannya”. Selain itu, doa-doa yang dipanjatkan dari kaum muslimin lain di lain tempat. Ada lagi, beban yang diterima pada waktu meninggal nanti. Ada syafaat untuk kaum muslimin pada waktu bershalawat kepada nabi, ada syafaat dari nabi dan ada rahmat dari Allah.

“Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya” (QS. Ibrahim : 34)

“dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin” (QS. Luqman : 20)

Iklan

Seorang penyair berkata,

“jiwaku yang punya sesuatu akan pergi,
Mengapa aku harus menangisi sesuatu yang harus pergi”

Dunia dengan emas dan peraknya, dengan jabatan dan rumah megahnya, maupun dengan istananya, tidak berhak mengalirkan setetespun air mata kita. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda “dunia ini terkutuk, semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali dzikir kepada Alalh, hal-hal yang bersangkutan dengan dzikir, seorang alim dan seorang pelajar Baca entri selengkapnya »

“Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.” (QS. An-Nur : 11)

Tidak semua orang jenius dan cerdik meniti perjalanan mereka dengan penuh kegigihan, kerena mereka sadar akan kekurangan yang ada pada mereka. Banyak ulama yang lahir dari bekas budak seperti Atha’, Said ibn Jubair, Qatadah, al-Bukhary, at-Tirmidzi, dan Abu Hanifah.

Banyak kalangan cendikiawan (yang karena luasnya pengetahuan mereka sehingga diibaratkan seperti samudra) yang buta Baca entri selengkapnya »

Unsur mudah dan memudahkan dalam syariat islam adalah dua hal yang membuat orang muslim senang.

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (QS. Thaha : 1-2)

“Dan Kami akan memberimu taufik kepada jalan yang mudah” (QS. Al-A’la : 8)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah : 286)

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath-Thalaq : 7)

“dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS. Al-Hajj : 78)

“dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka” (QS. Al-A’raf : 157)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah : 5-6)

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir Baca entri selengkapnya »

Jangan bersedih ! Karena rasa sakit dapat sirna, cobaan akan pergi, dosa akan terampuni, hutang akan terbayar, narapidana akan dibebaskan, orang yang hilang akan kembali, orang yang melakukan kemaksiatana akan bertaubat, dan orang yang fakir akan kaya.

Jangan bersedih ! Tidakkah anda memperhatikan bagaimana awan hitam itu tersingkap terang, malam yang demikian pekat menjadi terang benderang, angin yang sedemikian kencang itu mendadak tenang, dan angin puyuh itu mendadak berhenti ? Semua itu menandakan bahwa beban hidup anda pun pasti akan berakhir pada kehidupan yang aman, tentram dan menjanjikan masa depan yang gemilang.

Jangan bersedih ! Karena teriknya sinar matahari akan diteduhkan oleh bayangan, rasa haus yang mencekik di siang bolong akan disegarkan oleh air yang dingin dan rasa lapar yang melilit akan dikenyangkan oleh sepotong roti yang hangat. Bukankah keletihan karena begadang malam akan berujung pada tidur yag nyenyak, dan perasaan sakit akan tergantikan oleh kesehatan ? Karena itu, bersabar dan tunggulah barang sejenak.

Jangan bersedih, meskipun para dokter sudah kehabisan cara, kalangan orang bijak tak lagi mempan nasehatnya, para ulama tidak lagi berbuat apa-apa, para penyair hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, dan semua usaha tidak lagi ada yang berguna di hadapan takdir, qadha dan keniscayaan Allah.

Apakah anda ingin selalu awet muda, sehat, kaya, dan tidak akan mati ? Jika anda menginginkan itu, maka bukan di dunia tempatnya tapi di akhirat. Kehidupan dunia ini telah Allah ciptakan untuk sebuah penderitaan dan kefanaan. Allah saja menyebutnya sebagai “main-main”, senda gurau, dan penuh tipu daya.

Pernah seorang penyair hidup tanpa uang dan tidak punya apa-apa, padahal dia sedang dalam puncak keemasannya. Dia pernah berusaha mencarinya tapi tak mendapatkannya. Pernah mencoba menikahi seorang gadis tapi gagal. Ketika kemudian usianya sudah lanjut, rambutnya telah beruban, dan tulang-tulangnya telah mulai rapuh, harta itu datang sendiri kepadanya dari mana saja, istri tak susah didapat juga tempat tinggal. Tapi ini justru membuatnya mengeluh,

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir : 37)

“dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami” (QS. Al-Qashash : 39)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabut : 64)

Perumpamaan kehidupan ini adalah seorang musafir yang sedang bernaung di bawah sebatang pohon, yang sejenak kemudian pergi dan meninggalkan pohon itu.

Menurut saya, setiap orang, siapapun dia, akan mencari kebahagiaan dan ketenangan. Namun, hanya sedikit yang sampai ke sana dengan tetap berada di bawah sinar petunjuk dan mendapatkan keberuntungan.

Siapapun yang tidak menjadikan Allah selalu berada di depan matanya, maka faedah-faedah yang dia dapatkan akan berubah menjadi kerugian. Kegembiraan yang dia peroleh akan menjelma menjadi kesedihan. Dan, kebaikannya akan berubah menjadi bencana.

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-A’raf : 182)

Jalan berliku dan sulit yang ditempuh oleh banyak orang dengan mengabaikan ketentuan-ketentuan syariat untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebenarnya, akan terasa lebih mudah dan singkat bila mereka mau menempuh jalan syar’i yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). (QS. An-Nisa : 66)

Dengan menempuh jalan yang lurus yang diajarkan oleh Muhammad saw, maka mereka mendapatkan dua kebaikan sekaligus : dunia dan akhirat.

Banyak orang yang kehilangan makna kehidupan di dunia dan di akhirat. Mereka menyangka bahwa dirinya telah melakukan yang terbaik dan telah mendapatkan kebahagiaan. Padahal, mereka gagal mendapatkan yang di sini maupun yang di sana kelak. Mengapa ? Karena mereka berpaling dari jalan yang telah Allah tunjukkan melalui rasul-rasul-Nya, dan diterangkan lewat kitab-kitab-Nya. yang diminta dan dikatakan oleh para rasul dan kitab-kitab Allah itu benar adanya.

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’am : 115)

Seorang mahasiswa yang berasal dari negara islam belajar di barat, tepatnya di london. Di tempat itu, ia tinggal bersama keluarga inggris yang nonmuslim untuk belajar bahasa. Ia seorang yang taat kepada agamanya, selalu bangun menjelang fajar untuk pergi ke tempat air dan berwudhu. Air disana, karena pengaruh cuaca sangat dingin. Setelah itu dia pergi ke tempat shalatnya, untuk bersujud, ruku’, bertasbih dan bertahmid kepada Rabbnya. Dalam keluarga itu terdapat seorang nenek tua yang selalu memperhatikan apa yang dilakukan oleh mahasiswa ini. Setelah beberapa hari, nenek itu bertanta, “Apa yang engkau lakukan ?”

Mahasiswa itu menjawab, “Agamaku memerintahkanku untuk melakukan ini”

Si nenek itu bertanya lagi, “Mengapa tidak kau tunda waktunya untuk beberapa saat agar anda bisa lebih menikmati tidurmu ?”

Mahasiswa itu menjawab, “Tapi Rabbku tidak akan menerimanya jika aku menangguhkan waktu shalat dari waktu yang telah ditentukan”

Si nenek pun menganggukkan kepalanya dan berkomentar, “Sebuah tekad yang mampu menghancurkan besi baja”

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang, (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS. An-Nur : 37-38)

Kekuatan seperti itu merupakan tekad yang berawal dari keimanan, kekuatan yang berasal dari keyakinan, dan daya yang bersumber dari tauhid. Tekad seperti inilah yang telah memberi inspirasi kepada para penyihir fir’aun. Mereka terketuk untuk beriman kepada Allah Rabb alam semesta ketika mereka terlibat dalam pertarungan antara Musa dan Fir’aun. Mereka berkata kepada Fir’aun,

“Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mu’jizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan Kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja” (QS. Thaha : 72)

Ini merupakan tantangan yang jarang di dengar. Mereka terpanggil untuk menyampaikan risalah ini dengan memanfaatkan momentum itu dan untuk menyampaikan pesan yang benar dan kuat itu kepada seseorang yang kafir dan kejam ini.

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang yang Shiddiqqiin dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka” (QS. Al-Hadid : 19)

Shalat berfungsi untuk membersihkan, menguatkan, melapangkan, menyegarkan, dan memberikan kenikmatan kepada hati. Pada waktu shalat, terdapat hubungan langsung antara hati dan ruh disatu sisi dan Allah disisi yang lain. Ada kedekatan langsung kepada-Nya. Ada kenikmatan dalam berdzikir kepada-Nya. Ada rasa bangga untuk bermunajat kepada-Nya. Ada maksimalisasi penggunaan anggota badan, kekuatan dan perangkatnya untuk beribadah kepada-Nya. Ada pembagian tugas yang pas untuk masing-masing anggota badan. Ada waktu sejenak untuk melepaskan diri dari hubungan dengan sesama manusia. Ada keterikatan kekuatan hati dan tubuhnya kepada Rabb. Dan, ada waktu untuk melepaskan diri dari musuh-musuhnya, sehingga shalat menjadi obat yang paling manjur dan makanan yang hanya bisa dikonsumsi oleh hati yang suci. Sebaliknya, hati yang sakit tak ubahnya badan, hanya bisa menerima hal-hal materi yang bisa disantap saja.

Shalat adalah jalan terbesar untuk memperoleh kemaslahatan dunia dan akhirat, mencegah dari tindakan dosa, menghalangi tumbuhnya penyakit hati, mengusir penyakit, dan sekaligus mencegah kerusakan dunia dan akhirat. Shalat mencegah manusia untuk melakukan perbuatan dosa dan menjadi obat bagi penyakit-penyakit hati. Dia akan mengusir penyakit dari badan, menjadi penerang bagi hati, membuat wajah ceria tampak lebih bersinar, membuat anggota tubuh dan ruh segar serta penuh vitalitas. Shalat akan banyak mendatangkan rezeki, mencegah kezaliman, menolong orang-orang yang dizalimi, mencegah gempuran syahwat, mampu menjaga nikmat, mengusir bencana, dan mendapatkan rezeki. Shalat akan mendatangkan rahmat dan menyibakkan mendung kesuntukan

Orang yang tidak sabar menunggu datangnya rezeki dan selalu gundah karena semua kesenangannya tidak kunjung tiba adalah seperti makmum yang mendahului imam, padahal tahu bahwa ia hanya boleh salam setelah imam melakukannya. Segala permasalahan manusia dan rezeki itu sudah ditentukan, dan sudah selesai 50.000 tahun sebelum adanya penciptaan itu sendiri.

“Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya” (QS. An-Nahl : 1)

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya” (QS. Yunus : 107)

Umar sendiri pernah berdoa “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekejaman orang-orang yang durjana dan kelemahan orang-orang yang bisa dipercaya”. Doa ini merupakan ungkapan yang agung dan tulus. Saya sendiri telah mencermati catatan sejarah dan saya mendapatkan kesimpulan bahwa rata-rata musuh Allah itu memiliki kesungguhan, keras, tekad dan ambisi. Aneh bin ajaib memang. Ironisnya, kaum muslimin sendiri bermalas-malasan, loyo, dan tidak semangat. Hanya Allah yang tahu.

Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan : “Barangsiapa yang Aku ambil orang yang dicintainya dari penduduk dunia kemudian dia (bersabar sambil) mengharapkan pahala (dari-Ku), maka Aku akan menggantinya dengan surga” (HR. Bukhari)

Dalam hadist qudsi lainnya disebutkan “Barangsiapa Aku uji dengan (dicabut) kedua kekasihnya (kedua matanya) maka akan Aku ganti keduanya dengan surga”

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS. Al-Hajj : 46)

Dalam sebuah hadist qudsi yang lain Rasulullah bersabda “Sesungguhnya jika Allah mencabut anak seorang hamba yang beriman maka Allah bertanya kepada para malaikat (yang mencabutnya), “kalian telah mencabut nyawa anak hambaku yang beriman ?” Malaikat-malaikat itu menjawab, “Ya.” Allah bertanya lagi “Kalian mencabut buah hatinya ?” Mereka menjawab “Ya”. Allah bertanya lagi “Apa yang dia katakan ?” Mereka menjawab “Dia memuji Engkau dan mengembalikan (semua urusannya untuk-Mu)”. Allah berkata “Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan namakan rumah itu dengan Baitul Hamd” (HR. Tirmidzi)

Dalam sebuah atsar disebutkan “Di hari kiamat kelak banyak orang yang membayangkan seandainya diri mereka pernah dicabik-cabik dengan alat pemotong, karena melihat betapa indahnya balasan bagi orang yang ditimpa musibah”

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas” (QS. Az-Zumar : 10)

“Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah” (QS. Ar-Ra’d :34)

“Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir” (QS. Al-Baqarah : 250)

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan” (QS. An-Nahl : 127)

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu” (QS. Ar-Ruum : 60)

Dalam sebuah hadist disebutkan “sesungguhnya, besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Maka, barangsiapa yang (dengan) rela (menerimanya), maka baginya kerelaan itu, dan barangsiapa yang benci maka baginya kebencian itu” (HR. Tirmidzi)

Ada sejumlah permasalahan besar dalam musibah-musibah itu : ada kesabaran, takdir, pahala, tuntutan agar hamba menyadari bahwa Yang Mengambil adalah Yang Memberi dan Yang Mencabut adalah Yang Menganugerahkan.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa : 58)

Ali ibn al-Makmun al-Abbasi (seorang penguasa anak Khalifah al-Makmun) tinggal di sebuah istana yang megah. Semua kebutuhan dunianya dia dapatkan dengan mudah. Suatu hari dia melihat ke arah luar dari balkon istana. Dia melihat seorang yang bekerja keras sepanjang hari. Menjelang siang dia berwudhu dan melakukan shalat dua raka’at di pinggiran sungai Tigris. Saat maghrib dia pulang kepada keluarganya.

Suatu hari sang pangeran memanggil orang itu dan menanyakan kondisi yang sebenarnya. Orang itupun menjawab bahwa dia memiliki seorang istri, dua saudara perempuan dan seorang ibu yang harus ditanggung biaya hidupnya. Dia tidak memiliki makanan maupun pemasukan, kecuali dari apa yang dia dapat dari pasar. Dia juga berpuasa setiap hari dan berbuka setiap menjelang maghrib dari apa yang dia dapatkan.

Sang pangeran bertanya, “Apakah engkau mengeluhkan apa yang engkau alami ini ?”

Jawab lelaki itu, “Tidak. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam”

Saat itu juga pangeran Ali meninggalkan istana, jabatan, dan kekuasaannya. Dia pergi menuruti langkah kakinya, dan ditemukan telah meninggal beberapa tahun setelah itu. Dia telah berubah menjadi seorang tukang kayu yang bekerja di wilayah Khurasan. Dia memilih pekerjaan itu karena dia mendapatkan kebahagiaan dalam pekerjaannya itu yang tidak dia dapatkan di dalam istana.

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya” (QS. Muhammad : 17)

Kisah ini mengingatkan saya kepada Ashabul Kahfi yang berada di dalam istana bersama seorang raja. Namun merasa tertekan, bingung, dan terganggu, karena kekufuran telah menjangkiti istana. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk pergi meninggalkan istana. Salah seorang dari mereka berkata,

“maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” (QS. Al-Kahfi : 16)

Artinya, tempat yang sempit namun di dalamnya ada cinta, iman, dan kasih sayang akan terasa luas dan akan mampu memuat banyak orang

Diantara hal-hal yang membuat hati kita bingung, yang mengganggu keteguhan dan ketenangannya adalah ambisi agar dikenal dan mendapat simpati orang lain.

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Qashash : 83)

“Barangsiapa berlaku riya’, maka Allah akan bersikap riya’ kepadanya, dan barangsiapa menginginkan kemashyuran maka Allah pun akan memamerkan kemashyuran kepadanya” (Al-Hadist)

Allah berfirman,

“Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An-Nisa : 142)

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih” (QS. Ali Imron : 188)

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung-kampung dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah” (QS. Al-Anfal : 47)

Melakukan kebaikan, termasuk dalam hal-hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan menghilangkan keresahan. Melakukan kebaikan disini bisa berupa sedekah, berbuat baik, dan memberikan sesuatu yang baik kepada sesama. Semua ini merupakan satu dari sekian banyak hal yang mampu menciptakan kedamaian di dalam dada.

“Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rejeki yang telah Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah : 254)

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab : 35)

Rasulullah menggambarkan orang yang kikir dan orang yang dermawan itu dengan dua orang yang masing-masing memiliki jubah. Orang yang dermawan terus-menerus memberi dan menginfakkan hartanya, sehingga jubah yang dia pakai terus melebar. Demikian pula dengan baju perangnya yang terbuat dari besi, sehingga bekas-bekas telapak kakinya terhapus. Sementara itu, orang yang kikir terlalu kuat memegang hartanya dan semakin hari semakin berkurang sehingga menjepitnya dan semakin menyempit hingga jiwanya tersendat.

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat” (QS. Al-Baqarah : 265)

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (QS. Al-Isra : 29)

Belenggu yang mengikat jiwa adalah bagian dari belenggu yang mengikat tangan. Orang-orang kikir adalah orang yang paling sesak dadanya dan sempit akhlaknya. Mereka adalah orang-orang yang kikir atas karunia Allah. Seandainya mereka sadar bahwa apa yang mereka berikan kepada orang lain akan mendatangkan kebahagiaan, niscaya mereka akan berebut untuk melakukan kebaikan ini.

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun” (QS. At-Taghabun : 17)

Allah juga berfirman,

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Hasyr : 9)

“dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka” (QS. Al-Baqarah : 3)

Apakah menimbun harta akan membuat si penimbunnya menjadi kekal ? Apakah menginfakkannya akan mendatangkannya kepada ajal ?

Ibnul Qayyim menyebutkan beberapa hal yang membuat dada menjadi lapang dan damai. Dari semua itu yang paling penting adalah tauhid. Dengan kebersihan dan kesuciannya tauhid itu bisa menjadi lapang, jauh lebih luas dari dunia dan isinya.

Allah berfirman,

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha : 124)

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al-An’am : 125)

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Az-Zumar : 22)

Allah mengancam musuh-musuh-Nya dengan Baca entri selengkapnya »